MENCARI SEPOTONG SURGA TIMUR INDONESIA

“Tulisan ini diikutkan dalam Jailolo, I’m Coming!” Blog Contest yang diselenggarakan oleh Wego Indonesia dan Festival Teluk Jailolo

 

Berbicara mengenai keindahan dan kekayaan alam Indonesia memang tidak pernah habisnya. Setiap jengkal bumi khatuliswa ini diberi anugerah yang begitu spesial oleh Tuhan Yang  Maha Kuasa dengan berbagai potensinya masing-masing. Dan tidak pernah ada habisnya tentang cerita keindahan dan kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia.

Bicara lebih dalam lagi kekayaan Indonesia, khususnya Indonesia Timur maka pasti membuat banyak orang berdecak kagum dengan apa yang ada disana. Kekayaan yang tersebar dari atas gunung, daratan, pantai, laut, bawah air belum lagi sisi budaya dan masyarakatnya sungguh sangat eksotis. Hingga muncul sebutan, sepotong surga yang jatuh ke bumi.

Kini, siapa yang tidak ingin pergi ke Indonesia Timur; menginjakkan kakinya, merasakan udaranya, merasakan airnya dan merasakan atmosfer kehidupan disana.. Tentu saja, masyarakat lokal maupun mancanegara sangat ingin untuk pergi ke Indonesia Timur.

Saya sendiri masih sangat penasaran untuk bisa langsung menyelami apa yang dimiliki oleh Indonesia Timur. Saya ingin lebih dekat dengan mereka, alamnya, masyarakatnya, kearifan lokal dan berbagai hal yang tidak kita temui di tempat lain.  Pelaksanaan Festival Teluk Jailolo 2013 ini menjadi salah satu pembuka jalan untuk pergi mencari sepotong surga di Indonesia Timur.

Ada beberapa hal yang membuat saya ingin sekali pergi kesana. Pertama, saya bertekad untuk mengunjungi berbagai tempat yang ada di Indonesia dan Jailolo (Maluku ) adalah salah satunya. Pergi kesana bukan hanya untuk menikmati apa yang ada, tapi lebih dalam, untuk belajar menjadi lebih Indonesia. Karena mengenal Indonesia tidak cukup hanya melihat dari media, tapi dengan pergi langsung dan merasakan tiap jengkal tanah pertiwi. Bagaimana kau kenal Indonesia jika tidak merasakannya langsung bukan?

Kedua, adalah sebuah proses pembelajaran. Dengan pergi ke berbagai macam daerah, tentu saja kita akan menemukan berbagai hal yang unik dan berbeda.. Dan Tuhan sudah memberikan berbagai bermacam keberagaman yang menjadi kakayaan tersendiri bagi Indonesia.. Tentu saja Jailolo memiliki karakteristik sendiri, dengan keunikannya sebagai tempat belajar.

Ketiga adalah sebuah hashtag/tanda pagar (#) Inspiranesia yang merupakan akronim Inspirasi Indonesia. Hashtag tersebut menjadi sebuah catatan mengenai inspirasi yang saya dapatkan dari berbagai tempat di Indonesia. Dengan mendapatkan berbagai inspirasi tersebut kemudian saya ingin membagi kepada orang lain melalui berbagai media yang ada. Kemudian saya teringat pada sebuah bagian lagu:

 “….siapa lagi kalau bukan kamu yang jadi duta untuk bangsamu…
Negri yang kaya kamupun tahu sekarang giliran dunia yang tahu”

Lagu Melayu – Pandji Pragwaksono

Dan, jika saya bisa pergi kesana apa yang kemudian bisa saya lakukan?. Pertama seperti beberapa poin diatas, saya pasti membagi pengalaman kepada orang lain dengan berbagai sarana media yang ada (blog, socmed, foto). Kedua, tentu saja yang terlibat dengan kegiatan ini sangat banyak. Dengan banyaknya ini kemudian membentuk gerakan kolektif untuk lebih mengenalkan Jailolo ke banyak pihak diluar sana. Ketiga, dengan bersama menggandeng institusi yang terkait (pemerintah, media, NGO) untuk sama-sama memperkenalkan dan menjaga Jailolo.

“karena untuk menjadi lebih Indonesia, kita harus pergi, meresapi dari tiap jengkal tanah ibu pertiwi.

Jailolo i’m coming!”

 

Gambar

 

sumber: http://saripedia.files.wordpress.com/2010/10/malut2.jpg

 “mari menjadi lebih Indonesia!”

 

Gambar

 

http://2.bp.blogspot.com/-rQJVY99CYeI/URCV8zsaJII/AAAAAAAAAvc/jegMUh6_U2I/s1600/indonesia_raya_by_batatx-d5ay8bh.jpg

KAMI DATANG, RAJA AMPAT!

#inspiranesia3

Sore itu, setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam laut dari kota Sorong kami merapat di perlabuhan Waisai. Waisai ini merupakan ibukota kabupaten Raja Ampat. Raja Ampat sendiri merupakan kabupaten yang lahir pada 9 Mei 2003, sebagai daerah pemekaran dari Sorong. Dan, akhirnya sore itu kami pertama kali menginjakan kaki di Kabupaten Bahari, Raja Ampat, Papua Barat.

Gambar

Saat kami tiba di pelabuhan, kami sudah ditunggu bis milik pemerintah kabupaten yang kemudian membawa kami ke tempat penginapan yang disediakan. Setelah semua barang masuk kedalam bus tersebut kami beranjak meninggalkan pelabuhan. Saat keluar dari pelabuhan kami disambut jalanan cor semen yang kanan kiri masih ditumbuhi rimbunnya hutan tropis khas Indonesia. Tidak lama kemudian kami melewati tugu selamat datang di Kabupaten Raja Ampat dan melihat “kota” Waisai di bawah kejauhan.
hh

Sekitar lima belas menit kemudian, kami tiba dipenginapan Waisai Indah yang akan menjadi tempat bermalam kami malam ini. Setelah menurunkan semua barang bawaan dan menatanya kami masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuk beristirahat. Dan malam itu menjadi malam pertama kami di raja ampat bersama tim KKN Unit 216 ini.

Esok paginya sekitar pukul 09:00 kami sudah dijemput oleh bis pemda untuk dibawa ke kantor bupati Kabupaten Raja Ampat. Sebelum ke kantor bupati kami dibawa sedikit berkeliling di Waisai, kami sempat dibawa ke pantai WTC ( Waisai Tercinta) untuk berfoto bersama. Setelah berjalan-jalan disana sebentar, kami menuju ke kantor bupati. Tiba di kantor bupati kami disambut beberapa pejabat kabupaten dan langsung menuju ruangan rapat untuk koordinasi dan lapor diri ke pihak pemerintah setempat. Kompleks kabupaten raja ampat sendiri berada di paling belakang Waisai, dengan latar belakang berbatasan dengan hutan lebat dan diisi beberapa kantor suku dinas yang ada di raja ampat.

Kami disambut dengan sangat hangat oleh pihak pemda raja ampat di ruangan yang telah disediakan. Selama kurang lebih dua jam kami memaparkan rencana kegiatan dan diskusi mengenai  KKN yang akan kami laksanakan bersama pejabat pemkab raja Ampat. Selain kami memaparkan kegiatan kami, pihak pemerintah kabupaten juga memberi banyak masukan dan bekal sebelum kami terjun ke lapangan. 

Setelah pertemuan tersebut, kami dibawa kembali ke penginapan untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi KKN. Setelah meninggalkan kompleks kantor bupati kami sempat mampir di pasar rakyat Waisai. Pasar yang terdiri dari beberapa puluh kios ini menyediakan berbagai kebutuhan mulai sayur, buah, ikan, kelontong, pakaian, hingga toko bangunan. Pasar Waisai ini menjadi pusat perekonomian bagi waisai dan daerah sekitarnya. Dipasar dan toko sekitaran pasar kami temukan para penjual mayoritas berasal dari Jawa maupun Sulawesi, sedangkan penduduk lokal sedikit sekali.

Setelah beberapa lama di pasar, kami kembali ke penginapan. Di penginapan kami beristirahat sebentar, packing, menaikkan semua bawang bawaan ke mobil angkutan. Kira-kira pukul 13:00 kami berangkat meninggalkan Waisai untuk menuju Distrik Teluk Mayalibit, lokasi melaksanakan KKN. Perjalanan dari Waisai ke Warsambin (pusat Distrik Teluk Mayalibit) kami tempuh sekitar dua jam. Jalanan ke lokasi kkn kami masih tersusun dari tanah dan bebatuan di kanan-kirinya hutan lebat. Jalanan ini akan sangat becek-licin saat hujan dan sangat berdebu saat panas terik.

Di tengah perjalanan, kami sempat mampir ke air terjun yang ada di pinggir jalan sebelum masuk kampung warsambin. Kami istirahat sebentar, makan siang dan sempat mampir menikmati air terjun itu. Sekitar setengah jam kami disana, kemudian melanjutkan perjalanan ke Warsambin. Setelah kira-kira 15 menit melanjutkan perjalanan kami tiba di sebuah kampung yang akan menjadi lokasi KKN kami.

Sore itu, akhirnya kami tiba di kampung Warsambin, tempat kami tinggal, belajar, berbagi, menjejak kaki, menghirup udara, merasakan airnya, dan hidup….. 

 

UJIAN TARING SANG MACAN

Menjadi penduduk ibukota Jakarta, tentu saja sangat akrab dengan klub sepakbola kebanggaan ibukota yaitu Persija Jakarta. Menjadi hal lumrah ketika menjadi penduduk jakarta sekaligus menjadi pendukung klub sepak bola ini. Klub ini tentu saja memiliki perjalanan panjang bagi perkembangan sepakbola Indonesia. Hingga saat ini, Persija Jakarta masih menjadi tim yang cukup disegani di persepakbolaan nasional.

Berbicara mengenai Persija, ada dua hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu klub pemain bintang dan pendukung setianya the Jakmania. Beberapa musim terakhir skuad persija diisi oleh banyak pemain bintang dan menyumbang banyak pemain bagi tim nasional indonesia. Namun, kondisi tersebut berubah setelah terjadinya dualisme sepakbola yang melanda Indonesia. Tidak ada pemain Persija menghiasi timnas Indonesia sekitar satu tahun, hingga bergabungnya Bambang Pamungkas di AFF kemarin.

The Jakmania, merupakan salah satu supporter fanatik yang ada di Indonesia dan memiliki jumlah simpatisan yang cukup banyak. Menurut data yang ada, jumlah The Jakmania yang terdaftar dengan KTA The Jakmania lebih dari 50.000. Jumlah ini belum lagi para penggemar Persija di berbagai belahan Indonesia maupun mungkin di luar negeri. Loyalitas The Jak ini kemudian diberikan nomor punggung 12 di skuad Persija, sehingga tidak ada pemain dengan nomor punggung 2 di klub ini.

Berbicara mengenai gelar juara, sudah lama publik sepakbola Jakarta merindukannya. Sudah lama tidak ada gelar juara ataupun piala liga nasional yang dibawa pulang ke Ibukota. Beberapa piala yang didapatkanpun, merupakan trofi pramusim maupun kompetisi mini. Gelar juara liga nasional yang sudah dikoleksi sampai musim ini mencapai sepuluh buah, gelar yang didapatkan pun terakhir tahun 2001.

Selain itu, dualisme sepakbola yang terjadi di Indonesia juga mengorbankan Persija. Saat menjelang perhelatan musim lalu, lahir dua Persija yang mengatasnakamakan sebagai klub kebanggan ibukota. Meskipun, pada oktober kemarin akhirnya Persija (ISL) memenangkan gugatan di pengadilan dan kini resmi hanya ada satu Persija Jakarta. Tapi, tentu hal ini sangat merugikan dan mencoreng sepakbola Jakarta dengan dualisme Persija ini.

Berbicara peringkat klasemen di musim lalu, Persija menempati peringkat 5 dari 18 tim yang berkompetisi di ISL. Hasil ini melorot dua tingkat jika dibandingkan peringkat di akhir musim sebelumnya. Sekali lagi, Persija belum mampu menjadi jawara di Indonesian Super League. Lagi-lagi Jakarta harus menunggu gelar kesebelas entah hingga kapan.

Ketika gelaran ISL tahun 2013 hendak digulirkan, persiapan yang dilakukan manajemen Persija-pun seperti angin-anginan. Sebagai tim ibukota yang beberapa tahun belakangan bertabur bintang, menghadapi musim ini hal tersebut tidak kita lihat. Dalam bursa transfer pemain baru, persija hanya mengambil pemain yang tidak berlabel bintang seperti biasanya. Selain itu, persija juga hanya mengandalkan tiga pemain asing yang notabene pemain lama (Robertino, Fabiano, dan Pedro) tidak menambah/mengganti dengan pemain asing baru.

Hal ini menjadi kebijakan pelatih yang melatih Persija, Iwan Setiawan. Sejak kedatangannya menangani persija, transfer Persija tidak seperti biasanya. Iwan lebih banyak mencari pemain muda dengan transfer ataupun pemain-pemain muda potensial dari klub internal Persija. Disatu sisi, hal ini memberikan dampak positif untuk investasi pemain dalam jangka panjang. Setidaknya, hal ini masih dirasakan positif dengan melihat pencapaian Persija di musim lalu.

Kondisi yang lebih membuat para fans ketar-ketir adalah boikot yang dilakukan oleh sepuluh pemain inti persija musim lalu. Kita ketahui bersama Bambang, Ismed, Leo, Nanak, Andritany, Ramdani, Amarzukih, Galih, Johan Juansyah, dan Rahmat Afandi belum memperpanjang kontraknya dengan persija di musim ini. Hal ini, karena gaji beberapa bulan di musim lalu belum dilunasi dan nilai tawaran kontrak baru yang harganya belom menemui titik kesepakatan. Kondisi ini, tentu mengecewakan banyak fans Persija sendiri. Akhirnya, seperti match pertama lalu, hampir semua line-up merupakan pemain muda dan baru bagi Persija.

Melihat hal ini, kemudian muncul polemik atas nama loyalitas pemain terhadap klub. Pemain kemudian diminta mengerti dan memahami kondisi keuangan manajemen klub, dan hal ini bukan hanya terjadi di Persija saja. Beberapa klub ISL dan IPL mengalami krisis keuangan dan masih ada tunggakan gaji pemainnya untuk musim lalu. Disisi lain, pemain tentu saja punya kehidupan yang membutuhkan uang sebagai penggerak kehidupannya. Hal terburuk, kita lihat kasus meninggalnya Diego Mendieta (eks Persis Solo) yang tidak mampu membayar biaya rumah sakitnya sehingga berakhir tragis. Tentu saja kondisi ini tambah mencoreng wajah sepakbola Indonesia yang katanya menuju sepakbola yang lebih baik.

Kembali ke masalah Persija, akhirnya hingga malam ini empat pemain (Galih, Nanak, Johan dan Ismed) kembali memutuskan membela Persija musim ini. Ramdani sendiri sudah meninggalkan Persija dan berseragam Sriwijaya FC untuk musim ini. Sedangkan, pemain lain masih menunggu kepastian entah hingga kapan. Tentu saja hal seperti ini sangat disayangkan, melihat kontribusi pemain tersebut bagi Persija di musim lalu. Terlalu seringnya gonta-ganti pemain dan kontrak singkat semusim juga menyumbang inkonsistensi sebuah tim, padahal untuk membangun tim yang solid tidak butuh waktu yang instan.

Belum lagi masalah stadion. seperti semua klub sepakbola yang ada di Indonesia, belum ada kesepakbolaan yang status kepemilikan stadion dimiliki sendiri. Klub-klub di Indonesia, harus menyewa stadion milik pemerintah untuk digunakan sebagai home base baik untuk pertandingan kandang, latihan maupun lainnya. Bahkan, dua kali stadion yang biasa digunakan olah persija digusur oleh pemda DKI. Stadion menteng, yang dulu digunakan untuk latihan dibongkar dan digantikan dengan taman menteng. Sementara, stadion lebak bulus akan dibongkar untuk diganti menjadi stasiun MRT (Mass Rapid Transportation). akhirnya, dua musim terakhir Persija menggunakan Gelora Bung Karno sebagai tempat pertandingan dan GOR Ciracas sebagai tempat latihan. Belum lagi, jika GBK tidak bisa digunakan maupun izin Kepolisian tidak keluar maka pertandingan Persija akan dipindah keluar kota. Seperti beberapa pertandingan musim lalu, Persija terpaksa beberapa kali mengungsi ke Solo, Jogja dan beberapa tempat lain.

Memang, beberapa musim terakhir masalah tidak pernah lepas dari Persija. Taring-taring tajam sang Macan Kemayoran sering tergoyang. Masyarakat jakarta juga sudah rindu gelar juara dibawa kembali ke Ibukota. Melihat semuanya, kalo bukan masyarakat Jakarta yang mendukung Persija Jakarta siapa lagi.

Semoga Persija bisa lebih baik musim ini dan membanggakan masyarakat Jakarta.

 Gambar

jak-orange-army.blogspot.com

PERJALANAN PANJANG KE TIMUR

#inspiranesia2

                Awal juli sudah datang, hari H pelaksanaan KKN PPM UGM periode antar semester 2012 semakin dekat. Saya tergabung bersama tim KKN Unit 216 Raja Ampat, bersama dua puluh mahasiswa/i Gadjah Mada lain. Tim kami sendiri di bawah bimbingan bapak Ahmad Jamli, dosen dari FEB UGM. Tidak terasa bulan-bulan persiapan sudah tiba diakhir, dan inilah saatnya untuk kaki kami langkahkan ke tanah timur.

                Bagi kami berduapuluh, perjalanan ke bumi cendrawasih kali ini menjadi perjalanan kami untuk melangkahkan kaki disana (kecuali salah satu rekan yang sudah pernah survey lokasi). Perjalanan panjang bagi kami yang kami nilai bukan sekedar penuntasan 3 kredit semester sebagai salah satu kewajiban di kampus kami. Ini adalah perjalanan panjang yang memberi banyak pelajaran dan pengalaman.

                Untuk pergi kesana, kami memikirkan berbagai alternatif pilihan moda transportasi. Menggunakan kapal laut yang berhari-hari dilaut, atau pesawat yang lebih cepat sampai. Untuk menentukan pilihan ini memerlukan debat panjang, dan akhirnya memilih pesawat via Surabaya untuk sampai di kota sorong.

                Keberangkatan kami memang lebih lambat dibandingkan tim lain, karena menyesuaikan jadwal dan berbagai keperluan lain. Akhirnya tanggal 9 malam kami baru berangkat meninggalkan tanah jogja, meninggalkannya satu bulan untuk belajar di bumi Cendrawasih kepualauan Raja Ampat. Selepas isya kami berkumpul di gelanggang mahasiswa UGM, dengan barang bawaan ratusan kilogram. Mulai dari kebutuhan pribadi, keperluan tim, bahan makanan, kebutuhan program dan berbagai macam barang yang kami butuhkan.

                Setelah semua anggota berkumpul, doa bersama akhirnya tepat pulkul 21:00 kami meninggalkan tanah bulaksumur. Perjalanan darat 9 jam kami tempuh menggunakan bus sewaan dari Jogjakarta hingga bandara Djuanda Surabaya. Esok paginya, tepat jam enam pagi kami sampai di bandara Djuanda, dan harus menunggu penerbangan hampir 16 jam kemudian yang akan membawa kami ke kota sorong.

                Menunggu hampir 16 jam di bandara lumayan juga dan bukan hal mudah untuk menghabiskan waktu  selama itu dengan kondisi yang ada. Tapi beruntunglah, ada saja yang dilakukan ada yang belanja barang kebutuhan di kota surabaya, tidur, bermain kartu dan berbagai aktivitas untuk membunuh waktu. Tidak terasa hingga waktu beranjak malam dan saatnya kami untuk check-in. Saat check in, sempat ada masalah lantaran banyak barang2 yang ternyata dilarang untuk dimasukkan di pesawat dan sudah kami packing dalam kardus-kardus. Akhirnya dengan terpaksa kami membongkar dan mengakali beberapa barang bawaan. ternyata, barang yang kami bawa sekitar 600 kilogram dan mengalami kelebihan seratusan kilogram.

                Sekitar pukul 21:30, pesawat lepas landas dari tanah jawa menuju ujung selatan pulau sulawesi. Kami mendarat di bandara internasional sultan hasanuddin makassar, saat jam hampir menunjukkan pukul 00:00 WITA. Setibanya disana disana, kami harus menunggu sampai pukul 04:00 untuk melanjutkan penerbangan ke kota sorong. Lepas pukul 04:00, kami menuju pesawat untuk melanjutkan penerbangan. Jalan udara kami tempuh kurang lebih dua jam. Matahari pagi sorong, pukul 07:30-an WIT menyambut kedatangan kami dengan hangat. Akhirnya kami menginjakkan kaki di bandara Domine Eduward Osok, kota sorong.

                Kami sempat kaget saat mendarat di bandara DEO tersebut, apalagi saat memasuki terminal kedatangan penumpang. Jika di bandara kota lain, kebanyakan sudah menggunakan mesin otomatis sementara di bandara DEO masih belom berjalan. Peran mesin tersebut kemudian digantikan oleh porter-porter yang memindahkan barang bawaan penumpang. Sempat terjadi kepanikan, karena beberapa kardus dan dua tas barang pribadi rekan kami hilang, dan diduga nyasar sampai ke Ternate. Akhirnya setelah diurus, akan dikabari kemudian oleh petugas bandara dan maskapai yang kami tumpangi.

                Selepas dari bandara dan memasukkan barang bawaan kami ke bus sewaan. Kami menuju pelabuhan rakyat kota sorong untuk melanjutkan perjalanan ke raja ampat. Kurang lebih dua puluh menit, kami mencapai pelabuhan untuk kemudian memindahkan barang ke dalam lambung kapal. Kami tiba di kapal sekitar pukul 09:00 WIT, dan masih harus menunggu sampai pukul 14:00 sebelum kapal berangkat. Terpaksa, kami harus menunggu waktu lagi sebelum kapal Fajar Mulia beranjak dari kota sorong.

                Kira-kira pukul 14:30, kapan baru angkat jangkar dan meninggalkan pelabuhan. Kapal fajar Mulia ini merupakan kapal kelas ekonomi dan satu dari dua kapal umum yang melayani pelayaran sorong ke Waisai (ibukota Raja Ampat). Perjalanan laut kali ini kami tempuh dalam waktu 3 jam, di tengah perjalanan sempat melihat beberapa ekor lumba-lumba tidak jauh dari kapal. Setelah hampir tiga jam dilaut, akhirnya kami tiba di pelabuhan Raja Ampat sekitar pukul 17:30. setelah perjalanan panjang kami, darat-udara-laut selama hampir 48 jam….

                Sore ini kami disambut oleh langit sore yang indah, perpaduan indah laut dan sore Raja Ampat. Dan perjalanan kami baru dimulai disini.. raja ampat, sepotong surga di Indonesia…

THE JOURNEY BEGINS!

#inspiranesia1

Tidak terasa hari di tahun ini sudah memasuki pertengahan tahunnya, tidak terasa sembilan juli sudah tiba di depan mata. Perjalanan sembilan bulan ke belakang menjadi saksi persiapan yang kami lakukan. Dua puluh satu mahasiswa/i Gadjah  Mada pergi ke timur untuk membaktikan dirinya bersama masyarakat distrik teluk mayalibit, kabupaten raja ampat, provinsi papua barat.

Jauh dari rumah, jauh dari kenyamanan, merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Belajar untuk lebih menjadi manusia, berbagi.

Bukan sekedar sebuah pemenuhan formalitas pendidikan bangku kuliahan, tapi mencari lebih tentang kehidupan..

Satu dari pengalaman yang tak akan kami lupakan,  dan tak kan orang lain rasakan.

Tim KKN PPM UGM unit 216, Teluk Mayalibit, Raja Ampat 2012

Kami berduapuluh satu, mahasiswa/i Gadjah Mada…

Perjalanan kami dimulai, untuk negeri..

Indonesia Raya

Gambar