KAMI DATANG, RAJA AMPAT!

#inspiranesia3

Sore itu, setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam laut dari kota Sorong kami merapat di perlabuhan Waisai. Waisai ini merupakan ibukota kabupaten Raja Ampat. Raja Ampat sendiri merupakan kabupaten yang lahir pada 9 Mei 2003, sebagai daerah pemekaran dari Sorong. Dan, akhirnya sore itu kami pertama kali menginjakan kaki di Kabupaten Bahari, Raja Ampat, Papua Barat.

Gambar

Saat kami tiba di pelabuhan, kami sudah ditunggu bis milik pemerintah kabupaten yang kemudian membawa kami ke tempat penginapan yang disediakan. Setelah semua barang masuk kedalam bus tersebut kami beranjak meninggalkan pelabuhan. Saat keluar dari pelabuhan kami disambut jalanan cor semen yang kanan kiri masih ditumbuhi rimbunnya hutan tropis khas Indonesia. Tidak lama kemudian kami melewati tugu selamat datang di Kabupaten Raja Ampat dan melihat “kota” Waisai di bawah kejauhan.
hh

Sekitar lima belas menit kemudian, kami tiba dipenginapan Waisai Indah yang akan menjadi tempat bermalam kami malam ini. Setelah menurunkan semua barang bawaan dan menatanya kami masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuk beristirahat. Dan malam itu menjadi malam pertama kami di raja ampat bersama tim KKN Unit 216 ini.

Esok paginya sekitar pukul 09:00 kami sudah dijemput oleh bis pemda untuk dibawa ke kantor bupati Kabupaten Raja Ampat. Sebelum ke kantor bupati kami dibawa sedikit berkeliling di Waisai, kami sempat dibawa ke pantai WTC ( Waisai Tercinta) untuk berfoto bersama. Setelah berjalan-jalan disana sebentar, kami menuju ke kantor bupati. Tiba di kantor bupati kami disambut beberapa pejabat kabupaten dan langsung menuju ruangan rapat untuk koordinasi dan lapor diri ke pihak pemerintah setempat. Kompleks kabupaten raja ampat sendiri berada di paling belakang Waisai, dengan latar belakang berbatasan dengan hutan lebat dan diisi beberapa kantor suku dinas yang ada di raja ampat.

Kami disambut dengan sangat hangat oleh pihak pemda raja ampat di ruangan yang telah disediakan. Selama kurang lebih dua jam kami memaparkan rencana kegiatan dan diskusi mengenai  KKN yang akan kami laksanakan bersama pejabat pemkab raja Ampat. Selain kami memaparkan kegiatan kami, pihak pemerintah kabupaten juga memberi banyak masukan dan bekal sebelum kami terjun ke lapangan. 

Setelah pertemuan tersebut, kami dibawa kembali ke penginapan untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi KKN. Setelah meninggalkan kompleks kantor bupati kami sempat mampir di pasar rakyat Waisai. Pasar yang terdiri dari beberapa puluh kios ini menyediakan berbagai kebutuhan mulai sayur, buah, ikan, kelontong, pakaian, hingga toko bangunan. Pasar Waisai ini menjadi pusat perekonomian bagi waisai dan daerah sekitarnya. Dipasar dan toko sekitaran pasar kami temukan para penjual mayoritas berasal dari Jawa maupun Sulawesi, sedangkan penduduk lokal sedikit sekali.

Setelah beberapa lama di pasar, kami kembali ke penginapan. Di penginapan kami beristirahat sebentar, packing, menaikkan semua bawang bawaan ke mobil angkutan. Kira-kira pukul 13:00 kami berangkat meninggalkan Waisai untuk menuju Distrik Teluk Mayalibit, lokasi melaksanakan KKN. Perjalanan dari Waisai ke Warsambin (pusat Distrik Teluk Mayalibit) kami tempuh sekitar dua jam. Jalanan ke lokasi kkn kami masih tersusun dari tanah dan bebatuan di kanan-kirinya hutan lebat. Jalanan ini akan sangat becek-licin saat hujan dan sangat berdebu saat panas terik.

Di tengah perjalanan, kami sempat mampir ke air terjun yang ada di pinggir jalan sebelum masuk kampung warsambin. Kami istirahat sebentar, makan siang dan sempat mampir menikmati air terjun itu. Sekitar setengah jam kami disana, kemudian melanjutkan perjalanan ke Warsambin. Setelah kira-kira 15 menit melanjutkan perjalanan kami tiba di sebuah kampung yang akan menjadi lokasi KKN kami.

Sore itu, akhirnya kami tiba di kampung Warsambin, tempat kami tinggal, belajar, berbagi, menjejak kaki, menghirup udara, merasakan airnya, dan hidup….. 

 

Advertisements

“Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

 

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

 

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

 

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

 

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

 

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

 

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

 

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

 

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

 

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

 

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

 

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

 

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

 

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

 

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

 

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

 

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

 

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

 

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

 

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

 

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

 

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

 

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

 

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

 

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

 

”Entahlah..”

 

”Apa maksudmu?”

 

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

 

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

 

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

 

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

 

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

 

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

 

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

 

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

 

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

 

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

 

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

 

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

 

rep: https://www.facebook.com/notes/septian-dwi-purwanto/kisah-cinta-ali-fatimah/151574618222331