SEBUAH TANYA

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969

KEBANGKITAN NASIONAL 2.0

Ternyata sudah 104 tahun berlalu sejak berdirinya Boedi oetomo, momentum pada tanggal 20 mei 1908 tersebut kemudian ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari kebangkitan Nasional. Berdirinya boedi oetomo menjadi penanda lahirnya era baru perjuangan pemuda pada masa tersebut. pada masa tersebut juga berdiri berbagai organisasi dengan berbagai latar belakang pergerakan. Pada masa tersebut berdiri SI, SDI, Muhammadiyah dan banyak lagi.
Era yang dianggap kebangkitan nasional menjadi penanda baru metode perjuangan dengan pola organisasi. Seperti kutipan yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dalam jejak langkah “didiklah masyarakat dengan organisasi dan didiklah pemerintah dengan perlawanan”. Organisasipun terbukti menjadi wadah yang efektif bagi masyarakat untuk lebih maju. Hingga proses kemerdekaan Indonesia pada 1945, makin banyak organisasi yang berdiri dan menjadi wadah perjuangan. Masa tersebut menjadi era kebangkitan nasional 1.0.
Puluhan tahun sudah berlalu sejak zaman itu, Indonesia memasuki era baru dalam bingkai reformasi. Reformasi menjadi babak baru sejarah bangsa Indonesia. Rezim korup yang berkuasa selama 32 tahun runtuh atas desakan yang sangat kuat dari masyarakat Indonesia. Reformasi diharapkan melahirkan sebuah tatanan baru bagi kebangsaan Indonesia. Akan tetapi, sudah 14 tahun reformasi berjalan tidak juga terjadi perubahan yang signifikan dan memperbaiki masyarakat.
Empat belas tahun setelah reformasipun Indonesia masih jalan ditempat dan belum banyak berubah menjadi bangsa yang besar. Sebut saja kemiskinan, korupsi, pemerataan, pendidikan masih menjadi masalah serius yang belum tertangani. Masalah-msalah tersbut menjadi bagian keseharian dari bangsa Indonesia. Tentu saja hal ini sangat merisaukan bagi bangsa Indonesia.
Anak muda yang selalu diidentikkan dengan semangat perubahan pasti selalu dijadikan harapan terbesar bagi perbaikan bangsa. Anak muda harusnya tidak hanya tinggal diam berpaku tangan menunggu negerinya hancur. Dengan segala potensi, semangat, dan kemampuan yang dimiliki anak muda harus bergerak membuat perubahan. Akan tetapi, ruang gerak anak muda seringkali tidak dianggap dan hanya mengganggu saja oleh orang tua. Kondisi inilah yangmembuat anak muda harus berbuat.
Hari ini banyak sekali anak-anak muda Indonesia yang memberi sinar harapan akan perubahan bangsa. Banyak sekali anak-anak muda potensial yang memiliki kepedulian dan sensitivitas yang tinggi terhadap realita bangsanya. Anak-anak muda ini bergerak dengan banyak cara dan jalan untuk berbuat hal-hal yang bermanfaat. Organisasi, komunitas dan gerakan-gerakan banyak yang berdiri dan memiliki visi untuk berbuat bagi kemajuan Indonesia. Tentu saja, ni sebuah kekuatan baru yang tidak bisa disepelekan.
Kini yang menjadi catatan penting adalah semua elemen anak bangsa tersebut saling bersinergi satu sama lainnya. Sangat disayangkan jika terjadi persaingan bahkan saling meniadakan antar kelompok-kelompok tersebut. ini akan menjadi kekuatan yang mahadahsyat untuk membuat bangsa ini jauh lebih maju. Jika era sebelum kemerdekaan, masalah kedaulatan kemerdekaan melwan penjajah menjadi common enemy. Maka, hari ini masalah-msalah yang masih mengganjal di bangsa Indonesia jadi musuh bersama yang harus dituntaskan.
Berkaca dari sejarah bukan hanya Indonesia, tetapi juga dunia maka peranan anak muda tidak dapat dipisahkan begitu saja. Sejarah mencatat banyak sekali sejarah-sejarah emas yang telah dilakukan. Kini hanya tinggal menunggu momentum besar untuk anak-anak muda Indonesia ini dapat berbuat sesuatu yang besar. Bukan tidak mungkin, kebangkitan nasional 2.0 akan terjadi dalam waktu dekat dengan optimisme anak-anak muda ini.

KEBANGKITAN ABAD 21

“Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah pemerintah dengan perlawanan”

-Pramoedya A.T-

            Kutipan diatas sebuah penggalan kalimat dalam novel ketiga tetralogi Pulau Buru milik Pramoedya A.T. novel yang berjudul Jejak Langkah menjadi fase perlawanan melalui bentuk organisasi dan media dalam era perjuangan Hindia Belanda. Dalam novel tersebut diceritakan bagaimana kondisi organisasi-organisasi pergerakan melakukan perjuangannya. Selain itu juga diangkat peran media masa sebagai media perlawanan kepada penjajah.

Sebagai salah satu isinya dibahas mengenai perjalanan Boedi oetomo, organisasi yang dianggap beberapa kalangan sebagai cikal bakal organisasi pergerakan dan perlawanan modern di Indonesia. Hari ini kita mengenal berdirinya Boedi oetomo pada 20 Mei 1908 diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. BO merupakan perhimpunan mahasiswa sekolah kedokteran STOVIA. Hal ini menjadi babak baru perjuangan kemerdekaan, golongan terpelajar membentuk organisasi sebagai bentuk perlawanan. Stovia juga berdiri untuk melakukan pencerdasan bagi masyarakat, meskipun cakupannya hanyalah kaum jawa.

Berdirinya Boedi Oetomo tersebut, memicu lahirnya gerakan-gerakan lain yang memiliki tujuan perjuangan. Pasca 1908, muncul berbagai organisasi yang juga memiliki berbagai latar belakang seperti ideology, keagamaan, dan politik. Organisasi pada masa itu dinilai sangat efektif dalam melakukan melakukan pencerdasan dan melakukan mobilisasi masyarakat. Namun, organisasi-organiasi tersebut berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya kesamaan visi Indonesia merdeka. Akhirnya, pada 1928 terlaksana sumpah pemuda sebagai wadah penyatuan visi mengenai kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.

Seratus empat tahun sudah berlalu sejak BO berdiri, dan hari ini organisasi-organisasi masih menjadi wadah pergerakan kaum muda dalam berbagai bentuk dan latar belakang. Di abad 21 ini, pemuda Indonesia mendirikan berbagai organisasi dengan interest masing-masing. Mereka tentu memiliki semangat untuk membuat Indonesia bangkit kembali menuju era barunya. Tentu, bukan hal yang mustahil dengan kekuatan semangat dan idealismenya anak muda bisa membuat kebangkitan.

Melihat kondisi ini, maka bukan tidak mungkin kebangkitan abad 21 bisa terjadi. Hal yang perlu dilakukan adalah terus menciptakan kesadaran kolektif mengenai kondisi kebangsaan. Setelah itu yang diperlukan adalah sinergi untuk terus bergerak mencerdaskan bangsa. Stop cursing the darkness and lets light the candle. Berhenti hanya mengutuk realita buruk yang ada, dan segeralah menyalakan api perubahan. Muda beda dan berbahaya!

MENDIDIK INDONESIA

Berbicara mengenai mahasiswa, maka tidak bia dipisahkan dari sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara. Mahasiswa dalam berbagai bentuk aksinya selalu memiliki peranan yang signifikan bagi bangsa dan negaranya.

Mahasiswa kini bukan lagi dianggap sebagai agent of change tapi sudah menjadi director of change. Mahasiswa sudah seharusnya ikut serta dalam kontribusi nyata melakukan sebuah perubahan. Seringkali kita saksikan mahasiswa hanya melakukan aksi-aksi jalanan, tanpa melakukan perbuatan bermanfaat yang nyata. Hal ini yang harusnya sudah ditinggalkan dan memilih cara-cara lain yang lebih positif dan solutif.

Kondisi pendidikan Indonesia yang kacau saat ini menuntut peran mahasiswa untuk turun langsung. Jika kita melihat realita yang terjadi masalah pendidikan belum sanggup diselesaikan oleh pemerintah. Banyak sekali permasalahan yang menyangkut penyelenggaraan infrastruktur dan suprastruktur pendidikan yang masih terjadi. Masalah-masalah tersebut yang hingga kini masih membuat pendidikan di Indonesia belum merata dan masih tertinggal dari bangsa lain.

Dengan dunia pendidikan yang seperti ini, seringkali timbul pertanyaan apakah mahasiswa bisa melakukan sesuatu yang berarti? Pertanyaan inilah yang bukan hanya  sekedar harus dijawab tapi juga  dilakukan secara nyata. Mahasiswa Indonesia ternyata sudah melakukannya sejak lima puluh tahun yang lalu. Pada era tahun 1950-an, alm. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri (mantan Rektor UGM) yang saat itu masih menjadi mahasiswa sudah membuktikannya. Beliau bersama beberapa mahasiswa UGM dikerahkan untuk  mengajar dan mendirikan sekolah lanjutan tingkat atas (SMA)  di beberapa lokasi luar pulau Jawa. Kegiatan ini dikenal dengan nama Pengerahan tenaga Mahasiswa (PTM).

Kegiatan PTM inilah yang dikemudian hari menjadi inspirasi lahirnya Kegiatan Kuliah Kerja Nyata. Dalam kegiatan KKN inilah mahasiswa diterjunkan untuk langsung berinteraksi dan melakukan kontribusi yang nyata untuk masyarakat. Berbagai program dilakukan Dalam kegiatan KKN dan pendidikan menjadi salah satu program utamanya.

Selain program KKN seperti diatas, PTM juga mengispirasi lahirnya Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) yang diinisasi oleh Anies Baswedan. Format GIM ini menerjunkan banyak fresh graduate untuk terjun langsung menjadi pengajar  sekolah dasar di pelosok Indonesia. Setelah lahirnya gerakan ini kemudian bermunculan Gerakan Kampus Mengajar di berbagai perguruan tinggi. Kesempatan inilah yang harusnya dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk berkontribusi nyata bagi peerbaikan pendidikan.

“Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik” inilah kalimat yang sering sekali disampaikan oleh Anies Baswedan mengenai tanggung jawab mahasiswa sebagai kaum terdidik. Mahasiswa harus mengambil peranan untuk membuat pendidikan lebih baik. Karena mahasiswa adalah penggerak perubahan, maka teruslah bergerak dan berbuat untuk negeri yang lebih baik.

DARI KAMPUS UNTUK PENDIDIKAN INDONESIA

“Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik” inilah kalimat yang sering sekali disampaikan oleh penggagas Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan.

Kurang meratanya kuantitas dan kualitas tenaga pendidik di Indonesia masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Kaisar Hirohito pada tahun 1945 setelah Jepang di bom atom oleh tentara sekutu, hal yang beliau tanyakan adalah berapakah jumlah guru yang masih hidup. Hal ini menunjukkan begitu besarnya peranan guru bagi suatu negara.

Melihat kondisi  ini mahasiswa sebagai golongan yang dicap sebagai kaum terdidik harusnya mengambil peranan. Mahasiswa bukan pada tempatnya hanya melakukan aksi-aksi jalanan menuntut perbaikan sistem pendidikan tanpa melakukan suatu tindakan apapun. Idealnya mahasiswa bisa dan harus melakukan sesuatu untuk melakukan perbaikan. Hal ini bukan isapan jempol belaka, mantan rektor UGM alm. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri pernah membaktikan  dirinya untuk menjadi pendidik di Kupang, Nusa Tenggara Timur. .

Saat masih menjadi mahasiswa alm. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri menginisiasi gerakan di UGM untuk mejadi pengajar di SMA-SMA di berbagai wilayah di Indonesia. Program ini diberi nama Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM), yang dikemudian hari mengisnpirasi kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di berbagai kampus di Indonesia.

Kegiatan PTM tersebut juga menginspirasi Anies Baswedan untuk mendirikan Gerakan Indonesia Mengajar belum lama ini. Gerakan Indonesia Mengajar mengirimkan banyak fresh graduate untuk menjadi pengajar di berbagai  sekolah dasar di berbagai wilayah Indonesia. Gerakan Indonesia mengajar menjadi tamparan bagi publik bahwa sudah seharusnya masyarakat khususnya mahasiswa tidak sekedar menuntut perbaikan tapi juga melakukan perbaikan itu sendiri.

Gerakan ini kemudian menginspirasi kampus-kampus untuk menjadi tenaga pendidik sukarela di berbagai tempat. Setidaknya dalam 2 tahun kebelakang, di berbagai kampus lahir gerakan-gerakan kampus mengajar, mulai yang diinisiasi kampus sendiri, gerakan internal, hingga gerakan eksternal mahasiswa. Hal ini tentu sangat positif bagi dunia pendidikan Indonesia ditengah kondisi pendidikan yang demikian.

Akan tetapi, menjamurnya gerakan positif ini bukan berarti tidak meninggalkan catatan penting. Sebagai gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa, perlu dijaga orientasi dan konsistensinya. Karena seringkali ditemukan hal yang dilakukan oleh mahasiswa hanya tebatas pada ceremonial dan ajang mencari citra yang baik saja. Tentu akan sangat berdampak signifikan jika lebih banyak lagi jumlah mahasiswa yang memiliki kepedulian dan berbuat yang terbaik untuk pendidikan di Indonesia. Dengan peningkatan pendidikan yang lebih berkualitas, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

REORIENTASI PARTAI POLITIK

Partai politik mempunyai posisi peranan yang sangat vital di negara yang menganut sistem demokrasi, seperti Indonesia. Partai politik idealnya sebagai penghubung strategis antara negara dan rakyat.

Tidak bisa dipungkiri, banyak  juga pandangan kritis dan bahkan skeptis  yang lahir terhadap partai politik. Partai politik hanya  menjadi kendaraan golongan tertentu untuk menuju kekuasaan dan demi kepentingan golongannya sendiri. Partai politik juga menjadi alat bagi segelintir orang untuk memaksakan berlakunya kebijakan-kebijakan tertentu. Partai politik juga menjadikan kekuasaan dan posisi yang dimiliki untuk mengambil keuntungan secara ekonomi, yang cenderung melahirkan adanya korupsi.

Menurut data Kementerian Dalam Negeri, sudah 173 kepala daerah selama periode 2004-2012 yang menjalani pemeriksaan dengan status sebagai saksi, tersangka, dan terdakwa. Sebanyak 70 persen dari jumlah itu sudah mendapat vonis berkekuatan hukum tetap dan menjadi terpidana. Tentu, kondisi ini sangat memalukan bagi bangsa Indonesia. Bahkan, belum lama ini sepasang kepala daerah dilantik dari dalam penjara. Banyaknya jumlah kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi ini disinyalir karena tingginya biaya yang digunakan oleh partai politik dan calon kepala daerah dalam proses pemilihannya.

Realita yang terjadi ini memperlihatkan tidak terjadinya perubahan yang lebih baik secara signifikan dibandingkan era orde baru. Kondisi negara yang dinilai korup dan amburadul memicu terjadinya reformasi pada tahun 1998. Reformasi tersebut membawa cita-cita untuk membawa Indonesia kearah yang lebih baik. Dengan adanya reformasi diharapkan terwujudnya perpolitikan yang bersih dan bebas dari korupsi, nyatanya hal tersebut tidak terjadi.

Kondisi kacau seperti ini terjadi karena adanya disorientasi pada partai politik. Pada konsep idealnya partai politik seharusnya menjadi wadah pendidikan politik dan pencerdasan politik bagi warga negara. Akan tetapi, dalam realitanya partai politik lebih mengedepankan kepentingan golongan sendiri dan menipu rakyat. Kepentingan rakyat banyak yang diabaikan, penyelewengan kekuasaan banyak dilakukan dan kantong-kauntong uang partai politik semakin menebal.

Oleh karena itu, perlu bagi partai politik untuk kembali kepada fungsi awalnya dan kembali menjadi wadah yang positif bagi masyarakat. Perbaikan yang dilakukan adalah dengan meningkatkan kesadaran dan kemampuan berpolitik bagi warga negara melalui pendidikan berpolitik yang baik. Dari perspektif pemerintah sendiri, juga harus diikuti dengan peningkatan penegakan hukum dan aturan yang ada. Bangsa yang lebih baik dan bermartabat bisa terwujud jika diikuti kesadaran berpolitik yang tinggi dari warga negaranya.


PARADOKS PENUNDAAN KENAIKAN HARGA BBM

Maret lalu pemerintahan Indonesia  mengeluarkan rencana kebijakan menaikan harga BBM bersubsidi terhitung tanggal 1 April 2012. Rencana ini pun menimbulkan pro kontra di berbagai kalangan masyarakat.

Setiap pihak di masyarakat memiliki argumen untuk mempertahankan pendapat dan menunjukkan mana yang lebih benar. Akan tetapi, bagaimanapun asumsi yang lahir di masyarakat berakhir di ruangan paripurna wakil rakyat. Sidang paripurna yang dilaksanakan tanggal 30 Maret 2012 kemarin menghasilkan penundaan rencana kenaikan harga BBM pada 1 April 2012. Keputusan penundaan tersebut merupakan hasil voting Rapat Paripurna DPR RI tentang RUU APBN Perubahan 2012.

 Dengan kata lain, harga BBM bersubsidi tidak jadi naik  dan membuka kemungkinan untuk dinaikan dalam jangka enam bulan kedepan. Tidak bisa kita pungkiri, dengan adanya tarik ulur kebijakan menaikkan harga bbm bersubsidi ini harga barang-barang dimasyarakat sudah terlanjur naik.  Harga bahan pangan pokok dan barang lainnya justru lebih dulu naik mengantisipasi kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi.

Memang harga BBM bersubsidi tidak jadi dinaikkan, tetapi cukup sulit untuk menurunkan harga barang-barang yang sudah terlanjur naik.  Bukan tidak mungkin ketika enam bulan kedepan terjadi lagi rencana menaikkan harga BBM bersubsidi terjadi kembali lonjakan harga barang-barang di masyarakat. Hal inilah yang lebih memberatkan masyarakat dibanding lahirnya kebijakan untuk menaikkan atau tidak menaikkan sama sekali harga BBM bersubsidi.

Hal lain yang menimbulkan paradoks adalah mengenai himbauan tidak menggunakan BBM bersubsidi bagi kalangan mampu. Pemerintah melalui Kementerian ESDM mengeluarkan himbauan “Premium adalah BBM bersubdi, Hanya untuk golongan tidak mampu”. Himbauan ini sangat tidak efektif jika melihat kondisi masyarakat Indonesia dan hanya akan menjadi isapan jempol belaka. Kondisi ini mengingat  masyarakat Indonesia yang susah diatur jika hanya dalam bentuk himbauan, dan kesadaran masyarakat yang rendah mengenai kondisi di masyarakat.

Ironi ini semakin menjadi kenyataan dengan perbandingan harga BBM bersubsidi (Premium) dengan BBM non-subsidi (pertamax) yang hanya 43 persennya. Harga pada 2 April tercatat harga premium Rp 4.500 dan pertamax mencapai Rp 10.350.  Kondisi ini  ditunjukkan  mobil mewah yang masih membeli premium untuk bahan bakarnya. Masyarakat juga cenderung semakin menggunakan BBM bersubsidi dibandingkan peduli pada penambahan subsidi APBN pada BBM bersubsidi tersebut.

Korelasi dari kedua hal diatas adalah mengenai ketegasan pemerintah untuk mengambil kebijakan. Memang kebijakan yang diambil oleh pemerintah selalu menimbulkan pro dan kontra diberbagai kalangan. Akan tetapi lebih salah jika pemerintah bersikap plin-plan dan tidak tegas. Apalagi jika kebijakan yang diambil hanya demi kepentingan golongan semata,  bukan untuk seluruh bangsa Indonesia. 

DIBALIK KOMPENSASI BBM

Dalam waktu dekat pemerintah berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) khususnya premium. Dengan harga sekarang sebesar Rp 4500 pemerintah berencana menaikkan menjadi Rp 6.000.

            Kebijakan yang dinilai oleh masyarakat tidak populis ini sontak mengundang berbagai kontroversi dari berbagai kalangan masyarakat. Pemerintah kemudian mengeluarkan kompensasi sebagai solusi  kenaikan harga BBM ini. Pemerintah berencana menyiapkan dana Rp 30-40 triliun, yang antara lain akan dipakai untuk BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat)sekitar Rp 25 triliun dan tambahan beasiswa bagi anak miskin sebesar Rp2,5 triliun. Kebijakan mengeluarkan kompensasi ini bukanlah hal baru bagi bangsa Indonesia. Saat menaikkan harga bbm pada tahun 2008 lalu pemerintah mengeluarkan kebijakan serupa dengan nama Bantuan langsung Tunai (BLT).

Dari kebijakan tersebut nampaknya masih banyak hal yang perlu dievaluasi karena dinilai tidak efektif dan tepat dengan kondisi yang ada. Berbagai penyimpangan mengenai Bantuan Langsung tunai ini tidak bias kita pungkiri. Hal ini terlihat dari tidak tepat sasarannya BLT, tidak meratanya pembagian dan penyimpangan dana yang didapatkan. Banyak kasus BLT diterima oleh orang-orang yang mampu, pemotongan dana BLT oleh pejabat setempat dan perbedaan standar penerima BLT di masing-masing daerah.

Tentunya ada solusi yang lebih baik dibanding memberikan uang langsung kepada masyarakat. Memberikan ikan dibanding memberikan kail pancing, menjadi analogi yang tepat dalam situasi ini. Dengan kebijakan ini pemerintah mendidik masyarakat menjadi konsumtif dan manja, bukan masyarakat yang produktif. BLSM juga akan menjadikan masyarakat hanya memiliki orientasi ekonomi jangka pendek, karena mudahnya mendapatkan uang tunai.

 Alternatif lain, pemerintah bisa mengalihkan untuk peningkatan lapangan pekerjaan, pemerintah bisa membuat lapangan kerja yang padat modal dan padat karya. Dengan adanya lapangan pekerjaan ini tentu masyarakat lebih terberdayakan dan mandiri. Selain itu, pemerintah juga bisa mengalihkannya untuk pembangunan transportasi umum yang lebih baik. Terakhir, penggunaan dana ini untuk meningkatkan kualitas masyarakat melalui pendidikan dan peningkatan kemampuan masyarakat untuk lebih mandiri. Mari kawal kebijakan pemerintah ini dengan bijak. 

Mahasiswa Bisa Membuat Perubahan

Pemuda khususnya mahasiswa selalu diidentikkan sebagai agent of change dengan idealisme, semangat, dan kapasitas yang dimilikinya.Berkaca dari perjalanan bangsa, tidak bisa dipungkiri mahasiswa menjadi garda terdepan dalam sebuah perubahan.

Namun, ada pergeseran metode yang digunakan mahasiswa dalam membuktikan peranannya sebagai agent of change. Jika pada masa kemerdekaan hingga setelah reformasi cara turun ke jalan lebih sering digunakan, kini pemberdayaan masyarakat menjadi cara yang baru. Community development dan community empowerment menjadi cara yang dipilih banyak kalangan mahasiswa untuk membuat sebuah perubahan.

Banyak kalangan menyadari aksi turun ke jalan tidak akan membawa dampak positif langsung pada masyarakat.Sebaliknya,terjun langsung ke masyarakat bisa menjadi solusi lebih baik bagi masyarakat. Kapasitas keilmuan, kesempatan, dan jaringan yang dimiliki tentu sangat memudahkan mahasiswa untuk melakukan perubahan. Kini banyak cara yang digunakan dalam melakukan perubahan masyarakat.

Beberapa perguruan tinggi masih memiliki program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan mahasiswanya diterjunkan langsung ke masyarakat. Di sini mahasiswa bisa berkolaborasi antardisiplin ilmu untuk bahu-membahu membangun masyarakat.Selama KKN ini mahasiswa juga dituntut bisa dekat dan mengaktualisasikan dirinya langsung dalam kehidupan masyarakat. Organisasi mahasiswa baik yang bersifat intrakampus maupun ekstrakampus juga tidak mau ketinggalan.

Masing-masing organisasi tersebut memiliki program kerja yang sasarannya untuk memajukan masyarakat melalui berbagai cara.Mereka memilih desa binaan, menggelar pelatihan, dan mengajar untuk ikut mewujudkan perubahan di masyarakat.Akhir-akhir ini banyak bermunculan program kampus mengajar.Kegiatan ini terinspirasi dari program Indonesia Mengajar yang diinisiasi oleh Anies Baswedan.

Penulis sepakat dengan salah satu pernyataan beliau bahwa “mendidik adalah tugas kaum terdidik”. Inilah peranan yang idealnya diambil mahasiswa sebagai kaum terdidik dengan mengajar dan membangun masyarakat di berbagai tempat. Perkembangan metode pergerakan baru inilah yang kini dibutuhkan oleh Indonesia. Mahasiswa tidak hanya berdemonstrasi di jalanan,tapi juga turut serta dalam pembangunan.

Kini yang menjadi ujian adalah konsistensi dan semangat para mahasiswa. Mewujudkan masyarakat yang lebih baik perlu konsistensi dan kontinuitas.Membuat masyarakat lebih baik juga bukan untuk formalitas program kerja, ikut-ikutan yang lainnya, apalagi pencitraan semata, melainkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

CHANDRA AGIE YUDHA
Mahasiswa Jurusan Manajemen,
Fakultas Ekonomika dan Bisnis,
Universitas Gadjah Mada;
Peserta PPSDMS Nurul Fikri

 

*tulisan ini dimuat di kolom Suara Mahasiswa, Harian SINDO Rabu. 7 Maret 2012

“Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

 

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

 

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

 

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

 

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

 

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

 

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

 

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

 

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

 

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

 

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

 

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

 

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

 

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

 

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

 

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

 

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

 

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

 

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

 

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

 

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

 

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

 

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

 

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

 

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

 

”Entahlah..”

 

”Apa maksudmu?”

 

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

 

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

 

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

 

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

 

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

 

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

 

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

 

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

 

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

 

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

 

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

 

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

 

rep: https://www.facebook.com/notes/septian-dwi-purwanto/kisah-cinta-ali-fatimah/151574618222331