KAMI DATANG, RAJA AMPAT!

#inspiranesia3

Sore itu, setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam laut dari kota Sorong kami merapat di perlabuhan Waisai. Waisai ini merupakan ibukota kabupaten Raja Ampat. Raja Ampat sendiri merupakan kabupaten yang lahir pada 9 Mei 2003, sebagai daerah pemekaran dari Sorong. Dan, akhirnya sore itu kami pertama kali menginjakan kaki di Kabupaten Bahari, Raja Ampat, Papua Barat.

Gambar

Saat kami tiba di pelabuhan, kami sudah ditunggu bis milik pemerintah kabupaten yang kemudian membawa kami ke tempat penginapan yang disediakan. Setelah semua barang masuk kedalam bus tersebut kami beranjak meninggalkan pelabuhan. Saat keluar dari pelabuhan kami disambut jalanan cor semen yang kanan kiri masih ditumbuhi rimbunnya hutan tropis khas Indonesia. Tidak lama kemudian kami melewati tugu selamat datang di Kabupaten Raja Ampat dan melihat “kota” Waisai di bawah kejauhan.
hh

Sekitar lima belas menit kemudian, kami tiba dipenginapan Waisai Indah yang akan menjadi tempat bermalam kami malam ini. Setelah menurunkan semua barang bawaan dan menatanya kami masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuk beristirahat. Dan malam itu menjadi malam pertama kami di raja ampat bersama tim KKN Unit 216 ini.

Esok paginya sekitar pukul 09:00 kami sudah dijemput oleh bis pemda untuk dibawa ke kantor bupati Kabupaten Raja Ampat. Sebelum ke kantor bupati kami dibawa sedikit berkeliling di Waisai, kami sempat dibawa ke pantai WTC ( Waisai Tercinta) untuk berfoto bersama. Setelah berjalan-jalan disana sebentar, kami menuju ke kantor bupati. Tiba di kantor bupati kami disambut beberapa pejabat kabupaten dan langsung menuju ruangan rapat untuk koordinasi dan lapor diri ke pihak pemerintah setempat. Kompleks kabupaten raja ampat sendiri berada di paling belakang Waisai, dengan latar belakang berbatasan dengan hutan lebat dan diisi beberapa kantor suku dinas yang ada di raja ampat.

Kami disambut dengan sangat hangat oleh pihak pemda raja ampat di ruangan yang telah disediakan. Selama kurang lebih dua jam kami memaparkan rencana kegiatan dan diskusi mengenai  KKN yang akan kami laksanakan bersama pejabat pemkab raja Ampat. Selain kami memaparkan kegiatan kami, pihak pemerintah kabupaten juga memberi banyak masukan dan bekal sebelum kami terjun ke lapangan. 

Setelah pertemuan tersebut, kami dibawa kembali ke penginapan untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi KKN. Setelah meninggalkan kompleks kantor bupati kami sempat mampir di pasar rakyat Waisai. Pasar yang terdiri dari beberapa puluh kios ini menyediakan berbagai kebutuhan mulai sayur, buah, ikan, kelontong, pakaian, hingga toko bangunan. Pasar Waisai ini menjadi pusat perekonomian bagi waisai dan daerah sekitarnya. Dipasar dan toko sekitaran pasar kami temukan para penjual mayoritas berasal dari Jawa maupun Sulawesi, sedangkan penduduk lokal sedikit sekali.

Setelah beberapa lama di pasar, kami kembali ke penginapan. Di penginapan kami beristirahat sebentar, packing, menaikkan semua bawang bawaan ke mobil angkutan. Kira-kira pukul 13:00 kami berangkat meninggalkan Waisai untuk menuju Distrik Teluk Mayalibit, lokasi melaksanakan KKN. Perjalanan dari Waisai ke Warsambin (pusat Distrik Teluk Mayalibit) kami tempuh sekitar dua jam. Jalanan ke lokasi kkn kami masih tersusun dari tanah dan bebatuan di kanan-kirinya hutan lebat. Jalanan ini akan sangat becek-licin saat hujan dan sangat berdebu saat panas terik.

Di tengah perjalanan, kami sempat mampir ke air terjun yang ada di pinggir jalan sebelum masuk kampung warsambin. Kami istirahat sebentar, makan siang dan sempat mampir menikmati air terjun itu. Sekitar setengah jam kami disana, kemudian melanjutkan perjalanan ke Warsambin. Setelah kira-kira 15 menit melanjutkan perjalanan kami tiba di sebuah kampung yang akan menjadi lokasi KKN kami.

Sore itu, akhirnya kami tiba di kampung Warsambin, tempat kami tinggal, belajar, berbagi, menjejak kaki, menghirup udara, merasakan airnya, dan hidup….. 

 

Advertisements

UJIAN TARING SANG MACAN

Menjadi penduduk ibukota Jakarta, tentu saja sangat akrab dengan klub sepakbola kebanggaan ibukota yaitu Persija Jakarta. Menjadi hal lumrah ketika menjadi penduduk jakarta sekaligus menjadi pendukung klub sepak bola ini. Klub ini tentu saja memiliki perjalanan panjang bagi perkembangan sepakbola Indonesia. Hingga saat ini, Persija Jakarta masih menjadi tim yang cukup disegani di persepakbolaan nasional.

Berbicara mengenai Persija, ada dua hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu klub pemain bintang dan pendukung setianya the Jakmania. Beberapa musim terakhir skuad persija diisi oleh banyak pemain bintang dan menyumbang banyak pemain bagi tim nasional indonesia. Namun, kondisi tersebut berubah setelah terjadinya dualisme sepakbola yang melanda Indonesia. Tidak ada pemain Persija menghiasi timnas Indonesia sekitar satu tahun, hingga bergabungnya Bambang Pamungkas di AFF kemarin.

The Jakmania, merupakan salah satu supporter fanatik yang ada di Indonesia dan memiliki jumlah simpatisan yang cukup banyak. Menurut data yang ada, jumlah The Jakmania yang terdaftar dengan KTA The Jakmania lebih dari 50.000. Jumlah ini belum lagi para penggemar Persija di berbagai belahan Indonesia maupun mungkin di luar negeri. Loyalitas The Jak ini kemudian diberikan nomor punggung 12 di skuad Persija, sehingga tidak ada pemain dengan nomor punggung 2 di klub ini.

Berbicara mengenai gelar juara, sudah lama publik sepakbola Jakarta merindukannya. Sudah lama tidak ada gelar juara ataupun piala liga nasional yang dibawa pulang ke Ibukota. Beberapa piala yang didapatkanpun, merupakan trofi pramusim maupun kompetisi mini. Gelar juara liga nasional yang sudah dikoleksi sampai musim ini mencapai sepuluh buah, gelar yang didapatkan pun terakhir tahun 2001.

Selain itu, dualisme sepakbola yang terjadi di Indonesia juga mengorbankan Persija. Saat menjelang perhelatan musim lalu, lahir dua Persija yang mengatasnakamakan sebagai klub kebanggan ibukota. Meskipun, pada oktober kemarin akhirnya Persija (ISL) memenangkan gugatan di pengadilan dan kini resmi hanya ada satu Persija Jakarta. Tapi, tentu hal ini sangat merugikan dan mencoreng sepakbola Jakarta dengan dualisme Persija ini.

Berbicara peringkat klasemen di musim lalu, Persija menempati peringkat 5 dari 18 tim yang berkompetisi di ISL. Hasil ini melorot dua tingkat jika dibandingkan peringkat di akhir musim sebelumnya. Sekali lagi, Persija belum mampu menjadi jawara di Indonesian Super League. Lagi-lagi Jakarta harus menunggu gelar kesebelas entah hingga kapan.

Ketika gelaran ISL tahun 2013 hendak digulirkan, persiapan yang dilakukan manajemen Persija-pun seperti angin-anginan. Sebagai tim ibukota yang beberapa tahun belakangan bertabur bintang, menghadapi musim ini hal tersebut tidak kita lihat. Dalam bursa transfer pemain baru, persija hanya mengambil pemain yang tidak berlabel bintang seperti biasanya. Selain itu, persija juga hanya mengandalkan tiga pemain asing yang notabene pemain lama (Robertino, Fabiano, dan Pedro) tidak menambah/mengganti dengan pemain asing baru.

Hal ini menjadi kebijakan pelatih yang melatih Persija, Iwan Setiawan. Sejak kedatangannya menangani persija, transfer Persija tidak seperti biasanya. Iwan lebih banyak mencari pemain muda dengan transfer ataupun pemain-pemain muda potensial dari klub internal Persija. Disatu sisi, hal ini memberikan dampak positif untuk investasi pemain dalam jangka panjang. Setidaknya, hal ini masih dirasakan positif dengan melihat pencapaian Persija di musim lalu.

Kondisi yang lebih membuat para fans ketar-ketir adalah boikot yang dilakukan oleh sepuluh pemain inti persija musim lalu. Kita ketahui bersama Bambang, Ismed, Leo, Nanak, Andritany, Ramdani, Amarzukih, Galih, Johan Juansyah, dan Rahmat Afandi belum memperpanjang kontraknya dengan persija di musim ini. Hal ini, karena gaji beberapa bulan di musim lalu belum dilunasi dan nilai tawaran kontrak baru yang harganya belom menemui titik kesepakatan. Kondisi ini, tentu mengecewakan banyak fans Persija sendiri. Akhirnya, seperti match pertama lalu, hampir semua line-up merupakan pemain muda dan baru bagi Persija.

Melihat hal ini, kemudian muncul polemik atas nama loyalitas pemain terhadap klub. Pemain kemudian diminta mengerti dan memahami kondisi keuangan manajemen klub, dan hal ini bukan hanya terjadi di Persija saja. Beberapa klub ISL dan IPL mengalami krisis keuangan dan masih ada tunggakan gaji pemainnya untuk musim lalu. Disisi lain, pemain tentu saja punya kehidupan yang membutuhkan uang sebagai penggerak kehidupannya. Hal terburuk, kita lihat kasus meninggalnya Diego Mendieta (eks Persis Solo) yang tidak mampu membayar biaya rumah sakitnya sehingga berakhir tragis. Tentu saja kondisi ini tambah mencoreng wajah sepakbola Indonesia yang katanya menuju sepakbola yang lebih baik.

Kembali ke masalah Persija, akhirnya hingga malam ini empat pemain (Galih, Nanak, Johan dan Ismed) kembali memutuskan membela Persija musim ini. Ramdani sendiri sudah meninggalkan Persija dan berseragam Sriwijaya FC untuk musim ini. Sedangkan, pemain lain masih menunggu kepastian entah hingga kapan. Tentu saja hal seperti ini sangat disayangkan, melihat kontribusi pemain tersebut bagi Persija di musim lalu. Terlalu seringnya gonta-ganti pemain dan kontrak singkat semusim juga menyumbang inkonsistensi sebuah tim, padahal untuk membangun tim yang solid tidak butuh waktu yang instan.

Belum lagi masalah stadion. seperti semua klub sepakbola yang ada di Indonesia, belum ada kesepakbolaan yang status kepemilikan stadion dimiliki sendiri. Klub-klub di Indonesia, harus menyewa stadion milik pemerintah untuk digunakan sebagai home base baik untuk pertandingan kandang, latihan maupun lainnya. Bahkan, dua kali stadion yang biasa digunakan olah persija digusur oleh pemda DKI. Stadion menteng, yang dulu digunakan untuk latihan dibongkar dan digantikan dengan taman menteng. Sementara, stadion lebak bulus akan dibongkar untuk diganti menjadi stasiun MRT (Mass Rapid Transportation). akhirnya, dua musim terakhir Persija menggunakan Gelora Bung Karno sebagai tempat pertandingan dan GOR Ciracas sebagai tempat latihan. Belum lagi, jika GBK tidak bisa digunakan maupun izin Kepolisian tidak keluar maka pertandingan Persija akan dipindah keluar kota. Seperti beberapa pertandingan musim lalu, Persija terpaksa beberapa kali mengungsi ke Solo, Jogja dan beberapa tempat lain.

Memang, beberapa musim terakhir masalah tidak pernah lepas dari Persija. Taring-taring tajam sang Macan Kemayoran sering tergoyang. Masyarakat jakarta juga sudah rindu gelar juara dibawa kembali ke Ibukota. Melihat semuanya, kalo bukan masyarakat Jakarta yang mendukung Persija Jakarta siapa lagi.

Semoga Persija bisa lebih baik musim ini dan membanggakan masyarakat Jakarta.

 Gambar

jak-orange-army.blogspot.com

PERJALANAN PANJANG KE TIMUR

#inspiranesia2

                Awal juli sudah datang, hari H pelaksanaan KKN PPM UGM periode antar semester 2012 semakin dekat. Saya tergabung bersama tim KKN Unit 216 Raja Ampat, bersama dua puluh mahasiswa/i Gadjah Mada lain. Tim kami sendiri di bawah bimbingan bapak Ahmad Jamli, dosen dari FEB UGM. Tidak terasa bulan-bulan persiapan sudah tiba diakhir, dan inilah saatnya untuk kaki kami langkahkan ke tanah timur.

                Bagi kami berduapuluh, perjalanan ke bumi cendrawasih kali ini menjadi perjalanan kami untuk melangkahkan kaki disana (kecuali salah satu rekan yang sudah pernah survey lokasi). Perjalanan panjang bagi kami yang kami nilai bukan sekedar penuntasan 3 kredit semester sebagai salah satu kewajiban di kampus kami. Ini adalah perjalanan panjang yang memberi banyak pelajaran dan pengalaman.

                Untuk pergi kesana, kami memikirkan berbagai alternatif pilihan moda transportasi. Menggunakan kapal laut yang berhari-hari dilaut, atau pesawat yang lebih cepat sampai. Untuk menentukan pilihan ini memerlukan debat panjang, dan akhirnya memilih pesawat via Surabaya untuk sampai di kota sorong.

                Keberangkatan kami memang lebih lambat dibandingkan tim lain, karena menyesuaikan jadwal dan berbagai keperluan lain. Akhirnya tanggal 9 malam kami baru berangkat meninggalkan tanah jogja, meninggalkannya satu bulan untuk belajar di bumi Cendrawasih kepualauan Raja Ampat. Selepas isya kami berkumpul di gelanggang mahasiswa UGM, dengan barang bawaan ratusan kilogram. Mulai dari kebutuhan pribadi, keperluan tim, bahan makanan, kebutuhan program dan berbagai macam barang yang kami butuhkan.

                Setelah semua anggota berkumpul, doa bersama akhirnya tepat pulkul 21:00 kami meninggalkan tanah bulaksumur. Perjalanan darat 9 jam kami tempuh menggunakan bus sewaan dari Jogjakarta hingga bandara Djuanda Surabaya. Esok paginya, tepat jam enam pagi kami sampai di bandara Djuanda, dan harus menunggu penerbangan hampir 16 jam kemudian yang akan membawa kami ke kota sorong.

                Menunggu hampir 16 jam di bandara lumayan juga dan bukan hal mudah untuk menghabiskan waktu  selama itu dengan kondisi yang ada. Tapi beruntunglah, ada saja yang dilakukan ada yang belanja barang kebutuhan di kota surabaya, tidur, bermain kartu dan berbagai aktivitas untuk membunuh waktu. Tidak terasa hingga waktu beranjak malam dan saatnya kami untuk check-in. Saat check in, sempat ada masalah lantaran banyak barang2 yang ternyata dilarang untuk dimasukkan di pesawat dan sudah kami packing dalam kardus-kardus. Akhirnya dengan terpaksa kami membongkar dan mengakali beberapa barang bawaan. ternyata, barang yang kami bawa sekitar 600 kilogram dan mengalami kelebihan seratusan kilogram.

                Sekitar pukul 21:30, pesawat lepas landas dari tanah jawa menuju ujung selatan pulau sulawesi. Kami mendarat di bandara internasional sultan hasanuddin makassar, saat jam hampir menunjukkan pukul 00:00 WITA. Setibanya disana disana, kami harus menunggu sampai pukul 04:00 untuk melanjutkan penerbangan ke kota sorong. Lepas pukul 04:00, kami menuju pesawat untuk melanjutkan penerbangan. Jalan udara kami tempuh kurang lebih dua jam. Matahari pagi sorong, pukul 07:30-an WIT menyambut kedatangan kami dengan hangat. Akhirnya kami menginjakkan kaki di bandara Domine Eduward Osok, kota sorong.

                Kami sempat kaget saat mendarat di bandara DEO tersebut, apalagi saat memasuki terminal kedatangan penumpang. Jika di bandara kota lain, kebanyakan sudah menggunakan mesin otomatis sementara di bandara DEO masih belom berjalan. Peran mesin tersebut kemudian digantikan oleh porter-porter yang memindahkan barang bawaan penumpang. Sempat terjadi kepanikan, karena beberapa kardus dan dua tas barang pribadi rekan kami hilang, dan diduga nyasar sampai ke Ternate. Akhirnya setelah diurus, akan dikabari kemudian oleh petugas bandara dan maskapai yang kami tumpangi.

                Selepas dari bandara dan memasukkan barang bawaan kami ke bus sewaan. Kami menuju pelabuhan rakyat kota sorong untuk melanjutkan perjalanan ke raja ampat. Kurang lebih dua puluh menit, kami mencapai pelabuhan untuk kemudian memindahkan barang ke dalam lambung kapal. Kami tiba di kapal sekitar pukul 09:00 WIT, dan masih harus menunggu sampai pukul 14:00 sebelum kapal berangkat. Terpaksa, kami harus menunggu waktu lagi sebelum kapal Fajar Mulia beranjak dari kota sorong.

                Kira-kira pukul 14:30, kapan baru angkat jangkar dan meninggalkan pelabuhan. Kapal fajar Mulia ini merupakan kapal kelas ekonomi dan satu dari dua kapal umum yang melayani pelayaran sorong ke Waisai (ibukota Raja Ampat). Perjalanan laut kali ini kami tempuh dalam waktu 3 jam, di tengah perjalanan sempat melihat beberapa ekor lumba-lumba tidak jauh dari kapal. Setelah hampir tiga jam dilaut, akhirnya kami tiba di pelabuhan Raja Ampat sekitar pukul 17:30. setelah perjalanan panjang kami, darat-udara-laut selama hampir 48 jam….

                Sore ini kami disambut oleh langit sore yang indah, perpaduan indah laut dan sore Raja Ampat. Dan perjalanan kami baru dimulai disini.. raja ampat, sepotong surga di Indonesia…

MENDIDIK INDONESIA (II)

#inspiranesia5

Berbicara mengenai pendidikan di negeri ini, seolah berbicara mengenai masalah yang tidak ada habisnya. Kita juga tidak memungkiri masih banyak permasalahan yang mendera dunia pendidikan di Indonesia. Masalah yang timbul mulai dari pemerataan pendidikan, keadaan sarana prasana penunjang pendidikan, masalah tenaga pengajar dan masih banyak masalah lain. Beberapa masalah ini juga kami hadapi langsung di lapangan saat kami melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata di Kampung Warsambin, Distrik Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat.

Di Kampong Warsambin yang merupakan ibukota Distrik Teluk Mayalibit memiliki dua buah sekolah yaitu SD YPK Sion dan SMP Negeri 12 Raja Ampat. Di Distrik Teluk Mayalibit ini terdiri dari empat kampung, dan disetiap kampung memiliki sekolah dasar. Sedangkan, untuk sekolah menengah pertama hanya ada satu yaitu SMPN 12 itu tadi. Bahkan SMP Negeri 12 raja Ampat menjadi satu-satunya sekolah menengah pertama yang ada di kawasan Teluk Mayalibit.

Bidang pendidikan juga menjadi salah satu program yang kami laksanakan dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata ini. Di kesempatan Kuliah Kerja Nyata inilah, kami berhadapan langsung dengan realita pendidikan yang ada di Indonesia. Kurang lebih tiga tahun kami sudah menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Mayoritas dari kami juga mendapatkan pendidikan yang sudah nyaman dan maju sedari tingkat sekolah dasar, kondisi yang sangat jauh kami temukan dilokasi KKN kami ini.

Selama ini, berbagai realita pendidikan yang ada di Indonesia hanya kami saksikan di televisi, kami baca di berita media cetak dan kami saksikan di berbagai media lain, kini kami rasakan langsung. Ketidakmerataan pendidikan, keterbatasan tenaga pengajar, kualitas pendidikan yang rendah kami saksikan langsung dan kami rasakan langsung bersama mereka. Tapi ada satu hal yang harus dibanggakkan dari mereka, ditengah keterbatasan semangat belajar mereka masih sangat tinggi.

Memang, jika kita berbicara mengenai masalah pendidikan seolah kita menemukan masalah yang tak kunjung usai. Namun, let’s stop cursing the darkness and light the candle. Stop complaining about the problem, and lets being part of solution. Kondisi inilah yang kemudian membuat anak muda harus mengambil peranan dan setidaknya berbuat walaupun sedikit untuk perubahan negeri.

Saya kemudian teringat tentang sejarah dan awal mulanya mengapa program Kuliah Kerja Nyata ini ada di Universitas Gadjah Mada ini. Pada awal 1950, beberapa tahun setelah Universitas ini berdiri, sempat terjadi krisis tenaga pengajar. Kemudian Universitas ini mengadakan program Pegerahan tenaga mengajar  (PTM) yang salah satunya adalah Prof. Koesnadi Hardjosoemantri (mantan rektor UGM) dan beberapa mahasiswa lain. mereka disebar ke beberapa daerah untuk menjadi pengajar SMA-SMA. Inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal adanya kegiatan KKN.

Setengah abad sejak PTM pertama kali dilakukan yang kemudian mengisnpirasi Anies Baswedan untuk mendirikan Gerakan Indonesia MEngajar. GIM lahir sebagai bentuk perbaikan pendidikan dan investasi masa depan bangsa. Gerakan ini mengirim sarjana-sarjana untuk menjadi pengajar sekolah dasar diberbagai tempat pelosok Indonesia.  Gerakan Indonesia Mengajar inilah yang juga menginspirasi kampus-kampus membuat pengajaran bagi masyarakat. Gerakan lingkungan kampus untuk ikut mendidik masyarakat inilah yang memang harusnya dilakukan sebagai kaum terdidik.

Memang, waktu kami melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata di Teluk Mayalibit hanya sekitar satu bulan lamanya. Semoga apa yang kami lakukan untuk dunia pendidikan ini bermanfaat bagi anak-anak di sana dan bagi negeri kami Indonesia.

SUMPAH PEMUDA 2.0

Delapan puluh empat tahun telah berlalu sejak kongres pemuda II terlaksana di jakarta. Kongres pemuda tersebut menjadi satu poin penting dalam sejarah kepemudaan bagi pemuda yang hidup di Nusantara waktu itu. Kongres pemuda lahir sebagai titik equilibrium perjuangan dan visi kebangsaan pemuda-pemudi nusantara awal abad 19. Kongres pemuda lahir sebagai perwujudan adanya sebuah mimpi, perasaan dan jiwa untuk menjadi satu.

Kongres pemuda 1928 mempertemukan berbagai kalangan pemuda-pemudi Indonesia untuk membentuk sebuah imagine community bernama Indonesia. Pasca 1908, banyak berdiri organisasi-organisasi pemuda dengan berbagai latar belakang, mulai dari agama, ekonomi, perjuangan, ilmu, dan banyak lagi. Namun, bisa dikatakan mereka masih bergerak sendiri-sendiri, belum ada kesamaan gerak padahal tujuan mereka sama untuk Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Kongres pemuda 1928, ditandai dengan lahirnya tiga butir pernyataan yang kemudian pada tahun 1950-an diubah oleh Soekarno dan M. Yamin.

–          Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia

–          Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia

–          Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

 

Selain tiga butir hasil kongres diatas, kongres pemuda 1928 juga menjadi tempat pertama kali lagu Indonesia raya diperdengarkan oleh W.R Supratman. Meskipun waktu itu hanya diputar instrumen menggunakan biolanya. Secara umum, kongres pemuda menjadi wadah pemersatu pemuda-pemudi nusantara diwaktu itu.

 

Kini, delapan puluh empat tahun berlalu nampaknya Indonesia menghadapi kondisi yang sama dengan era sebelum 1928. Pasca reformasi 1998, Indonesia memasuki era baru yang disebut reformasi yang katanya kemudian menjadikan bangsa ini bangsa yang lebih demokratis. Reformasi ’98 membuat organisasi yang bersifat kepemudaan lahir begitu banyak dengan berbagai latar belakangnya. Bisa dikatakan oerganisasi pemuda ini juga melakukan hal yang sama, gerak yang masih sendiri-sendiri sedikit sekali adanya keesatuan dan kesamaan gerak.

 

Oleh karena itu, pemuda-pemudi Indonesia di era sekaranga harus bersatu bersama membentuk kolaborasi dalam beraksi. Permasalahan mengenai kondisi bangsa saat ini menjadi isu bersama untuk dituntaskan, korupsi, kemiskinan, dan keterbelakangan. Oleh karena itu, momentum perbaikan bangsa menjadi hal yang paling urgent untuk dilaksanakan. bukan sekedar organisasi pemuda yang kongkow, kumpul bersama tapi membentuk sebuah gerakan besar yang berdasar pada idealisme kolektif dan visi bersama untuk Indonesia yang lebih merdeka, berdaulat dan sejahtera.

 

”karena yang benar bukan dijadikan satu, tapi dijadikan bersatu” @pandji

KEBANGKITAN ABAD 21

“Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah pemerintah dengan perlawanan”

-Pramoedya A.T-

            Kutipan diatas sebuah penggalan kalimat dalam novel ketiga tetralogi Pulau Buru milik Pramoedya A.T. novel yang berjudul Jejak Langkah menjadi fase perlawanan melalui bentuk organisasi dan media dalam era perjuangan Hindia Belanda. Dalam novel tersebut diceritakan bagaimana kondisi organisasi-organisasi pergerakan melakukan perjuangannya. Selain itu juga diangkat peran media masa sebagai media perlawanan kepada penjajah.

Sebagai salah satu isinya dibahas mengenai perjalanan Boedi oetomo, organisasi yang dianggap beberapa kalangan sebagai cikal bakal organisasi pergerakan dan perlawanan modern di Indonesia. Hari ini kita mengenal berdirinya Boedi oetomo pada 20 Mei 1908 diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. BO merupakan perhimpunan mahasiswa sekolah kedokteran STOVIA. Hal ini menjadi babak baru perjuangan kemerdekaan, golongan terpelajar membentuk organisasi sebagai bentuk perlawanan. Stovia juga berdiri untuk melakukan pencerdasan bagi masyarakat, meskipun cakupannya hanyalah kaum jawa.

Berdirinya Boedi Oetomo tersebut, memicu lahirnya gerakan-gerakan lain yang memiliki tujuan perjuangan. Pasca 1908, muncul berbagai organisasi yang juga memiliki berbagai latar belakang seperti ideology, keagamaan, dan politik. Organisasi pada masa itu dinilai sangat efektif dalam melakukan melakukan pencerdasan dan melakukan mobilisasi masyarakat. Namun, organisasi-organiasi tersebut berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya kesamaan visi Indonesia merdeka. Akhirnya, pada 1928 terlaksana sumpah pemuda sebagai wadah penyatuan visi mengenai kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.

Seratus empat tahun sudah berlalu sejak BO berdiri, dan hari ini organisasi-organisasi masih menjadi wadah pergerakan kaum muda dalam berbagai bentuk dan latar belakang. Di abad 21 ini, pemuda Indonesia mendirikan berbagai organisasi dengan interest masing-masing. Mereka tentu memiliki semangat untuk membuat Indonesia bangkit kembali menuju era barunya. Tentu, bukan hal yang mustahil dengan kekuatan semangat dan idealismenya anak muda bisa membuat kebangkitan.

Melihat kondisi ini, maka bukan tidak mungkin kebangkitan abad 21 bisa terjadi. Hal yang perlu dilakukan adalah terus menciptakan kesadaran kolektif mengenai kondisi kebangsaan. Setelah itu yang diperlukan adalah sinergi untuk terus bergerak mencerdaskan bangsa. Stop cursing the darkness and lets light the candle. Berhenti hanya mengutuk realita buruk yang ada, dan segeralah menyalakan api perubahan. Muda beda dan berbahaya!

MENDIDIK INDONESIA

Berbicara mengenai mahasiswa, maka tidak bia dipisahkan dari sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara. Mahasiswa dalam berbagai bentuk aksinya selalu memiliki peranan yang signifikan bagi bangsa dan negaranya.

Mahasiswa kini bukan lagi dianggap sebagai agent of change tapi sudah menjadi director of change. Mahasiswa sudah seharusnya ikut serta dalam kontribusi nyata melakukan sebuah perubahan. Seringkali kita saksikan mahasiswa hanya melakukan aksi-aksi jalanan, tanpa melakukan perbuatan bermanfaat yang nyata. Hal ini yang harusnya sudah ditinggalkan dan memilih cara-cara lain yang lebih positif dan solutif.

Kondisi pendidikan Indonesia yang kacau saat ini menuntut peran mahasiswa untuk turun langsung. Jika kita melihat realita yang terjadi masalah pendidikan belum sanggup diselesaikan oleh pemerintah. Banyak sekali permasalahan yang menyangkut penyelenggaraan infrastruktur dan suprastruktur pendidikan yang masih terjadi. Masalah-masalah tersebut yang hingga kini masih membuat pendidikan di Indonesia belum merata dan masih tertinggal dari bangsa lain.

Dengan dunia pendidikan yang seperti ini, seringkali timbul pertanyaan apakah mahasiswa bisa melakukan sesuatu yang berarti? Pertanyaan inilah yang bukan hanya  sekedar harus dijawab tapi juga  dilakukan secara nyata. Mahasiswa Indonesia ternyata sudah melakukannya sejak lima puluh tahun yang lalu. Pada era tahun 1950-an, alm. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri (mantan Rektor UGM) yang saat itu masih menjadi mahasiswa sudah membuktikannya. Beliau bersama beberapa mahasiswa UGM dikerahkan untuk  mengajar dan mendirikan sekolah lanjutan tingkat atas (SMA)  di beberapa lokasi luar pulau Jawa. Kegiatan ini dikenal dengan nama Pengerahan tenaga Mahasiswa (PTM).

Kegiatan PTM inilah yang dikemudian hari menjadi inspirasi lahirnya Kegiatan Kuliah Kerja Nyata. Dalam kegiatan KKN inilah mahasiswa diterjunkan untuk langsung berinteraksi dan melakukan kontribusi yang nyata untuk masyarakat. Berbagai program dilakukan Dalam kegiatan KKN dan pendidikan menjadi salah satu program utamanya.

Selain program KKN seperti diatas, PTM juga mengispirasi lahirnya Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) yang diinisasi oleh Anies Baswedan. Format GIM ini menerjunkan banyak fresh graduate untuk terjun langsung menjadi pengajar  sekolah dasar di pelosok Indonesia. Setelah lahirnya gerakan ini kemudian bermunculan Gerakan Kampus Mengajar di berbagai perguruan tinggi. Kesempatan inilah yang harusnya dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk berkontribusi nyata bagi peerbaikan pendidikan.

“Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik” inilah kalimat yang sering sekali disampaikan oleh Anies Baswedan mengenai tanggung jawab mahasiswa sebagai kaum terdidik. Mahasiswa harus mengambil peranan untuk membuat pendidikan lebih baik. Karena mahasiswa adalah penggerak perubahan, maka teruslah bergerak dan berbuat untuk negeri yang lebih baik.

DARI KAMPUS UNTUK PENDIDIKAN INDONESIA

“Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik” inilah kalimat yang sering sekali disampaikan oleh penggagas Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan.

Kurang meratanya kuantitas dan kualitas tenaga pendidik di Indonesia masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Kaisar Hirohito pada tahun 1945 setelah Jepang di bom atom oleh tentara sekutu, hal yang beliau tanyakan adalah berapakah jumlah guru yang masih hidup. Hal ini menunjukkan begitu besarnya peranan guru bagi suatu negara.

Melihat kondisi  ini mahasiswa sebagai golongan yang dicap sebagai kaum terdidik harusnya mengambil peranan. Mahasiswa bukan pada tempatnya hanya melakukan aksi-aksi jalanan menuntut perbaikan sistem pendidikan tanpa melakukan suatu tindakan apapun. Idealnya mahasiswa bisa dan harus melakukan sesuatu untuk melakukan perbaikan. Hal ini bukan isapan jempol belaka, mantan rektor UGM alm. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri pernah membaktikan  dirinya untuk menjadi pendidik di Kupang, Nusa Tenggara Timur. .

Saat masih menjadi mahasiswa alm. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri menginisiasi gerakan di UGM untuk mejadi pengajar di SMA-SMA di berbagai wilayah di Indonesia. Program ini diberi nama Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM), yang dikemudian hari mengisnpirasi kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di berbagai kampus di Indonesia.

Kegiatan PTM tersebut juga menginspirasi Anies Baswedan untuk mendirikan Gerakan Indonesia Mengajar belum lama ini. Gerakan Indonesia Mengajar mengirimkan banyak fresh graduate untuk menjadi pengajar di berbagai  sekolah dasar di berbagai wilayah Indonesia. Gerakan Indonesia mengajar menjadi tamparan bagi publik bahwa sudah seharusnya masyarakat khususnya mahasiswa tidak sekedar menuntut perbaikan tapi juga melakukan perbaikan itu sendiri.

Gerakan ini kemudian menginspirasi kampus-kampus untuk menjadi tenaga pendidik sukarela di berbagai tempat. Setidaknya dalam 2 tahun kebelakang, di berbagai kampus lahir gerakan-gerakan kampus mengajar, mulai yang diinisiasi kampus sendiri, gerakan internal, hingga gerakan eksternal mahasiswa. Hal ini tentu sangat positif bagi dunia pendidikan Indonesia ditengah kondisi pendidikan yang demikian.

Akan tetapi, menjamurnya gerakan positif ini bukan berarti tidak meninggalkan catatan penting. Sebagai gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa, perlu dijaga orientasi dan konsistensinya. Karena seringkali ditemukan hal yang dilakukan oleh mahasiswa hanya tebatas pada ceremonial dan ajang mencari citra yang baik saja. Tentu akan sangat berdampak signifikan jika lebih banyak lagi jumlah mahasiswa yang memiliki kepedulian dan berbuat yang terbaik untuk pendidikan di Indonesia. Dengan peningkatan pendidikan yang lebih berkualitas, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

REORIENTASI PARTAI POLITIK

Partai politik mempunyai posisi peranan yang sangat vital di negara yang menganut sistem demokrasi, seperti Indonesia. Partai politik idealnya sebagai penghubung strategis antara negara dan rakyat.

Tidak bisa dipungkiri, banyak  juga pandangan kritis dan bahkan skeptis  yang lahir terhadap partai politik. Partai politik hanya  menjadi kendaraan golongan tertentu untuk menuju kekuasaan dan demi kepentingan golongannya sendiri. Partai politik juga menjadi alat bagi segelintir orang untuk memaksakan berlakunya kebijakan-kebijakan tertentu. Partai politik juga menjadikan kekuasaan dan posisi yang dimiliki untuk mengambil keuntungan secara ekonomi, yang cenderung melahirkan adanya korupsi.

Menurut data Kementerian Dalam Negeri, sudah 173 kepala daerah selama periode 2004-2012 yang menjalani pemeriksaan dengan status sebagai saksi, tersangka, dan terdakwa. Sebanyak 70 persen dari jumlah itu sudah mendapat vonis berkekuatan hukum tetap dan menjadi terpidana. Tentu, kondisi ini sangat memalukan bagi bangsa Indonesia. Bahkan, belum lama ini sepasang kepala daerah dilantik dari dalam penjara. Banyaknya jumlah kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi ini disinyalir karena tingginya biaya yang digunakan oleh partai politik dan calon kepala daerah dalam proses pemilihannya.

Realita yang terjadi ini memperlihatkan tidak terjadinya perubahan yang lebih baik secara signifikan dibandingkan era orde baru. Kondisi negara yang dinilai korup dan amburadul memicu terjadinya reformasi pada tahun 1998. Reformasi tersebut membawa cita-cita untuk membawa Indonesia kearah yang lebih baik. Dengan adanya reformasi diharapkan terwujudnya perpolitikan yang bersih dan bebas dari korupsi, nyatanya hal tersebut tidak terjadi.

Kondisi kacau seperti ini terjadi karena adanya disorientasi pada partai politik. Pada konsep idealnya partai politik seharusnya menjadi wadah pendidikan politik dan pencerdasan politik bagi warga negara. Akan tetapi, dalam realitanya partai politik lebih mengedepankan kepentingan golongan sendiri dan menipu rakyat. Kepentingan rakyat banyak yang diabaikan, penyelewengan kekuasaan banyak dilakukan dan kantong-kauntong uang partai politik semakin menebal.

Oleh karena itu, perlu bagi partai politik untuk kembali kepada fungsi awalnya dan kembali menjadi wadah yang positif bagi masyarakat. Perbaikan yang dilakukan adalah dengan meningkatkan kesadaran dan kemampuan berpolitik bagi warga negara melalui pendidikan berpolitik yang baik. Dari perspektif pemerintah sendiri, juga harus diikuti dengan peningkatan penegakan hukum dan aturan yang ada. Bangsa yang lebih baik dan bermartabat bisa terwujud jika diikuti kesadaran berpolitik yang tinggi dari warga negaranya.


Mahasiswa Bisa Membuat Perubahan

Pemuda khususnya mahasiswa selalu diidentikkan sebagai agent of change dengan idealisme, semangat, dan kapasitas yang dimilikinya.Berkaca dari perjalanan bangsa, tidak bisa dipungkiri mahasiswa menjadi garda terdepan dalam sebuah perubahan.

Namun, ada pergeseran metode yang digunakan mahasiswa dalam membuktikan peranannya sebagai agent of change. Jika pada masa kemerdekaan hingga setelah reformasi cara turun ke jalan lebih sering digunakan, kini pemberdayaan masyarakat menjadi cara yang baru. Community development dan community empowerment menjadi cara yang dipilih banyak kalangan mahasiswa untuk membuat sebuah perubahan.

Banyak kalangan menyadari aksi turun ke jalan tidak akan membawa dampak positif langsung pada masyarakat.Sebaliknya,terjun langsung ke masyarakat bisa menjadi solusi lebih baik bagi masyarakat. Kapasitas keilmuan, kesempatan, dan jaringan yang dimiliki tentu sangat memudahkan mahasiswa untuk melakukan perubahan. Kini banyak cara yang digunakan dalam melakukan perubahan masyarakat.

Beberapa perguruan tinggi masih memiliki program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan mahasiswanya diterjunkan langsung ke masyarakat. Di sini mahasiswa bisa berkolaborasi antardisiplin ilmu untuk bahu-membahu membangun masyarakat.Selama KKN ini mahasiswa juga dituntut bisa dekat dan mengaktualisasikan dirinya langsung dalam kehidupan masyarakat. Organisasi mahasiswa baik yang bersifat intrakampus maupun ekstrakampus juga tidak mau ketinggalan.

Masing-masing organisasi tersebut memiliki program kerja yang sasarannya untuk memajukan masyarakat melalui berbagai cara.Mereka memilih desa binaan, menggelar pelatihan, dan mengajar untuk ikut mewujudkan perubahan di masyarakat.Akhir-akhir ini banyak bermunculan program kampus mengajar.Kegiatan ini terinspirasi dari program Indonesia Mengajar yang diinisiasi oleh Anies Baswedan.

Penulis sepakat dengan salah satu pernyataan beliau bahwa “mendidik adalah tugas kaum terdidik”. Inilah peranan yang idealnya diambil mahasiswa sebagai kaum terdidik dengan mengajar dan membangun masyarakat di berbagai tempat. Perkembangan metode pergerakan baru inilah yang kini dibutuhkan oleh Indonesia. Mahasiswa tidak hanya berdemonstrasi di jalanan,tapi juga turut serta dalam pembangunan.

Kini yang menjadi ujian adalah konsistensi dan semangat para mahasiswa. Mewujudkan masyarakat yang lebih baik perlu konsistensi dan kontinuitas.Membuat masyarakat lebih baik juga bukan untuk formalitas program kerja, ikut-ikutan yang lainnya, apalagi pencitraan semata, melainkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

CHANDRA AGIE YUDHA
Mahasiswa Jurusan Manajemen,
Fakultas Ekonomika dan Bisnis,
Universitas Gadjah Mada;
Peserta PPSDMS Nurul Fikri

 

*tulisan ini dimuat di kolom Suara Mahasiswa, Harian SINDO Rabu. 7 Maret 2012