KAMI DATANG, RAJA AMPAT!

#inspiranesia3

Sore itu, setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam laut dari kota Sorong kami merapat di perlabuhan Waisai. Waisai ini merupakan ibukota kabupaten Raja Ampat. Raja Ampat sendiri merupakan kabupaten yang lahir pada 9 Mei 2003, sebagai daerah pemekaran dari Sorong. Dan, akhirnya sore itu kami pertama kali menginjakan kaki di Kabupaten Bahari, Raja Ampat, Papua Barat.

Gambar

Saat kami tiba di pelabuhan, kami sudah ditunggu bis milik pemerintah kabupaten yang kemudian membawa kami ke tempat penginapan yang disediakan. Setelah semua barang masuk kedalam bus tersebut kami beranjak meninggalkan pelabuhan. Saat keluar dari pelabuhan kami disambut jalanan cor semen yang kanan kiri masih ditumbuhi rimbunnya hutan tropis khas Indonesia. Tidak lama kemudian kami melewati tugu selamat datang di Kabupaten Raja Ampat dan melihat “kota” Waisai di bawah kejauhan.
hh

Sekitar lima belas menit kemudian, kami tiba dipenginapan Waisai Indah yang akan menjadi tempat bermalam kami malam ini. Setelah menurunkan semua barang bawaan dan menatanya kami masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuk beristirahat. Dan malam itu menjadi malam pertama kami di raja ampat bersama tim KKN Unit 216 ini.

Esok paginya sekitar pukul 09:00 kami sudah dijemput oleh bis pemda untuk dibawa ke kantor bupati Kabupaten Raja Ampat. Sebelum ke kantor bupati kami dibawa sedikit berkeliling di Waisai, kami sempat dibawa ke pantai WTC ( Waisai Tercinta) untuk berfoto bersama. Setelah berjalan-jalan disana sebentar, kami menuju ke kantor bupati. Tiba di kantor bupati kami disambut beberapa pejabat kabupaten dan langsung menuju ruangan rapat untuk koordinasi dan lapor diri ke pihak pemerintah setempat. Kompleks kabupaten raja ampat sendiri berada di paling belakang Waisai, dengan latar belakang berbatasan dengan hutan lebat dan diisi beberapa kantor suku dinas yang ada di raja ampat.

Kami disambut dengan sangat hangat oleh pihak pemda raja ampat di ruangan yang telah disediakan. Selama kurang lebih dua jam kami memaparkan rencana kegiatan dan diskusi mengenai  KKN yang akan kami laksanakan bersama pejabat pemkab raja Ampat. Selain kami memaparkan kegiatan kami, pihak pemerintah kabupaten juga memberi banyak masukan dan bekal sebelum kami terjun ke lapangan. 

Setelah pertemuan tersebut, kami dibawa kembali ke penginapan untuk melanjutkan perjalanan ke lokasi KKN. Setelah meninggalkan kompleks kantor bupati kami sempat mampir di pasar rakyat Waisai. Pasar yang terdiri dari beberapa puluh kios ini menyediakan berbagai kebutuhan mulai sayur, buah, ikan, kelontong, pakaian, hingga toko bangunan. Pasar Waisai ini menjadi pusat perekonomian bagi waisai dan daerah sekitarnya. Dipasar dan toko sekitaran pasar kami temukan para penjual mayoritas berasal dari Jawa maupun Sulawesi, sedangkan penduduk lokal sedikit sekali.

Setelah beberapa lama di pasar, kami kembali ke penginapan. Di penginapan kami beristirahat sebentar, packing, menaikkan semua bawang bawaan ke mobil angkutan. Kira-kira pukul 13:00 kami berangkat meninggalkan Waisai untuk menuju Distrik Teluk Mayalibit, lokasi melaksanakan KKN. Perjalanan dari Waisai ke Warsambin (pusat Distrik Teluk Mayalibit) kami tempuh sekitar dua jam. Jalanan ke lokasi kkn kami masih tersusun dari tanah dan bebatuan di kanan-kirinya hutan lebat. Jalanan ini akan sangat becek-licin saat hujan dan sangat berdebu saat panas terik.

Di tengah perjalanan, kami sempat mampir ke air terjun yang ada di pinggir jalan sebelum masuk kampung warsambin. Kami istirahat sebentar, makan siang dan sempat mampir menikmati air terjun itu. Sekitar setengah jam kami disana, kemudian melanjutkan perjalanan ke Warsambin. Setelah kira-kira 15 menit melanjutkan perjalanan kami tiba di sebuah kampung yang akan menjadi lokasi KKN kami.

Sore itu, akhirnya kami tiba di kampung Warsambin, tempat kami tinggal, belajar, berbagi, menjejak kaki, menghirup udara, merasakan airnya, dan hidup….. 

 

Advertisements

UJIAN TARING SANG MACAN

Menjadi penduduk ibukota Jakarta, tentu saja sangat akrab dengan klub sepakbola kebanggaan ibukota yaitu Persija Jakarta. Menjadi hal lumrah ketika menjadi penduduk jakarta sekaligus menjadi pendukung klub sepak bola ini. Klub ini tentu saja memiliki perjalanan panjang bagi perkembangan sepakbola Indonesia. Hingga saat ini, Persija Jakarta masih menjadi tim yang cukup disegani di persepakbolaan nasional.

Berbicara mengenai Persija, ada dua hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu klub pemain bintang dan pendukung setianya the Jakmania. Beberapa musim terakhir skuad persija diisi oleh banyak pemain bintang dan menyumbang banyak pemain bagi tim nasional indonesia. Namun, kondisi tersebut berubah setelah terjadinya dualisme sepakbola yang melanda Indonesia. Tidak ada pemain Persija menghiasi timnas Indonesia sekitar satu tahun, hingga bergabungnya Bambang Pamungkas di AFF kemarin.

The Jakmania, merupakan salah satu supporter fanatik yang ada di Indonesia dan memiliki jumlah simpatisan yang cukup banyak. Menurut data yang ada, jumlah The Jakmania yang terdaftar dengan KTA The Jakmania lebih dari 50.000. Jumlah ini belum lagi para penggemar Persija di berbagai belahan Indonesia maupun mungkin di luar negeri. Loyalitas The Jak ini kemudian diberikan nomor punggung 12 di skuad Persija, sehingga tidak ada pemain dengan nomor punggung 2 di klub ini.

Berbicara mengenai gelar juara, sudah lama publik sepakbola Jakarta merindukannya. Sudah lama tidak ada gelar juara ataupun piala liga nasional yang dibawa pulang ke Ibukota. Beberapa piala yang didapatkanpun, merupakan trofi pramusim maupun kompetisi mini. Gelar juara liga nasional yang sudah dikoleksi sampai musim ini mencapai sepuluh buah, gelar yang didapatkan pun terakhir tahun 2001.

Selain itu, dualisme sepakbola yang terjadi di Indonesia juga mengorbankan Persija. Saat menjelang perhelatan musim lalu, lahir dua Persija yang mengatasnakamakan sebagai klub kebanggan ibukota. Meskipun, pada oktober kemarin akhirnya Persija (ISL) memenangkan gugatan di pengadilan dan kini resmi hanya ada satu Persija Jakarta. Tapi, tentu hal ini sangat merugikan dan mencoreng sepakbola Jakarta dengan dualisme Persija ini.

Berbicara peringkat klasemen di musim lalu, Persija menempati peringkat 5 dari 18 tim yang berkompetisi di ISL. Hasil ini melorot dua tingkat jika dibandingkan peringkat di akhir musim sebelumnya. Sekali lagi, Persija belum mampu menjadi jawara di Indonesian Super League. Lagi-lagi Jakarta harus menunggu gelar kesebelas entah hingga kapan.

Ketika gelaran ISL tahun 2013 hendak digulirkan, persiapan yang dilakukan manajemen Persija-pun seperti angin-anginan. Sebagai tim ibukota yang beberapa tahun belakangan bertabur bintang, menghadapi musim ini hal tersebut tidak kita lihat. Dalam bursa transfer pemain baru, persija hanya mengambil pemain yang tidak berlabel bintang seperti biasanya. Selain itu, persija juga hanya mengandalkan tiga pemain asing yang notabene pemain lama (Robertino, Fabiano, dan Pedro) tidak menambah/mengganti dengan pemain asing baru.

Hal ini menjadi kebijakan pelatih yang melatih Persija, Iwan Setiawan. Sejak kedatangannya menangani persija, transfer Persija tidak seperti biasanya. Iwan lebih banyak mencari pemain muda dengan transfer ataupun pemain-pemain muda potensial dari klub internal Persija. Disatu sisi, hal ini memberikan dampak positif untuk investasi pemain dalam jangka panjang. Setidaknya, hal ini masih dirasakan positif dengan melihat pencapaian Persija di musim lalu.

Kondisi yang lebih membuat para fans ketar-ketir adalah boikot yang dilakukan oleh sepuluh pemain inti persija musim lalu. Kita ketahui bersama Bambang, Ismed, Leo, Nanak, Andritany, Ramdani, Amarzukih, Galih, Johan Juansyah, dan Rahmat Afandi belum memperpanjang kontraknya dengan persija di musim ini. Hal ini, karena gaji beberapa bulan di musim lalu belum dilunasi dan nilai tawaran kontrak baru yang harganya belom menemui titik kesepakatan. Kondisi ini, tentu mengecewakan banyak fans Persija sendiri. Akhirnya, seperti match pertama lalu, hampir semua line-up merupakan pemain muda dan baru bagi Persija.

Melihat hal ini, kemudian muncul polemik atas nama loyalitas pemain terhadap klub. Pemain kemudian diminta mengerti dan memahami kondisi keuangan manajemen klub, dan hal ini bukan hanya terjadi di Persija saja. Beberapa klub ISL dan IPL mengalami krisis keuangan dan masih ada tunggakan gaji pemainnya untuk musim lalu. Disisi lain, pemain tentu saja punya kehidupan yang membutuhkan uang sebagai penggerak kehidupannya. Hal terburuk, kita lihat kasus meninggalnya Diego Mendieta (eks Persis Solo) yang tidak mampu membayar biaya rumah sakitnya sehingga berakhir tragis. Tentu saja kondisi ini tambah mencoreng wajah sepakbola Indonesia yang katanya menuju sepakbola yang lebih baik.

Kembali ke masalah Persija, akhirnya hingga malam ini empat pemain (Galih, Nanak, Johan dan Ismed) kembali memutuskan membela Persija musim ini. Ramdani sendiri sudah meninggalkan Persija dan berseragam Sriwijaya FC untuk musim ini. Sedangkan, pemain lain masih menunggu kepastian entah hingga kapan. Tentu saja hal seperti ini sangat disayangkan, melihat kontribusi pemain tersebut bagi Persija di musim lalu. Terlalu seringnya gonta-ganti pemain dan kontrak singkat semusim juga menyumbang inkonsistensi sebuah tim, padahal untuk membangun tim yang solid tidak butuh waktu yang instan.

Belum lagi masalah stadion. seperti semua klub sepakbola yang ada di Indonesia, belum ada kesepakbolaan yang status kepemilikan stadion dimiliki sendiri. Klub-klub di Indonesia, harus menyewa stadion milik pemerintah untuk digunakan sebagai home base baik untuk pertandingan kandang, latihan maupun lainnya. Bahkan, dua kali stadion yang biasa digunakan olah persija digusur oleh pemda DKI. Stadion menteng, yang dulu digunakan untuk latihan dibongkar dan digantikan dengan taman menteng. Sementara, stadion lebak bulus akan dibongkar untuk diganti menjadi stasiun MRT (Mass Rapid Transportation). akhirnya, dua musim terakhir Persija menggunakan Gelora Bung Karno sebagai tempat pertandingan dan GOR Ciracas sebagai tempat latihan. Belum lagi, jika GBK tidak bisa digunakan maupun izin Kepolisian tidak keluar maka pertandingan Persija akan dipindah keluar kota. Seperti beberapa pertandingan musim lalu, Persija terpaksa beberapa kali mengungsi ke Solo, Jogja dan beberapa tempat lain.

Memang, beberapa musim terakhir masalah tidak pernah lepas dari Persija. Taring-taring tajam sang Macan Kemayoran sering tergoyang. Masyarakat jakarta juga sudah rindu gelar juara dibawa kembali ke Ibukota. Melihat semuanya, kalo bukan masyarakat Jakarta yang mendukung Persija Jakarta siapa lagi.

Semoga Persija bisa lebih baik musim ini dan membanggakan masyarakat Jakarta.

 Gambar

jak-orange-army.blogspot.com

PERJALANAN PANJANG KE TIMUR

#inspiranesia2

                Awal juli sudah datang, hari H pelaksanaan KKN PPM UGM periode antar semester 2012 semakin dekat. Saya tergabung bersama tim KKN Unit 216 Raja Ampat, bersama dua puluh mahasiswa/i Gadjah Mada lain. Tim kami sendiri di bawah bimbingan bapak Ahmad Jamli, dosen dari FEB UGM. Tidak terasa bulan-bulan persiapan sudah tiba diakhir, dan inilah saatnya untuk kaki kami langkahkan ke tanah timur.

                Bagi kami berduapuluh, perjalanan ke bumi cendrawasih kali ini menjadi perjalanan kami untuk melangkahkan kaki disana (kecuali salah satu rekan yang sudah pernah survey lokasi). Perjalanan panjang bagi kami yang kami nilai bukan sekedar penuntasan 3 kredit semester sebagai salah satu kewajiban di kampus kami. Ini adalah perjalanan panjang yang memberi banyak pelajaran dan pengalaman.

                Untuk pergi kesana, kami memikirkan berbagai alternatif pilihan moda transportasi. Menggunakan kapal laut yang berhari-hari dilaut, atau pesawat yang lebih cepat sampai. Untuk menentukan pilihan ini memerlukan debat panjang, dan akhirnya memilih pesawat via Surabaya untuk sampai di kota sorong.

                Keberangkatan kami memang lebih lambat dibandingkan tim lain, karena menyesuaikan jadwal dan berbagai keperluan lain. Akhirnya tanggal 9 malam kami baru berangkat meninggalkan tanah jogja, meninggalkannya satu bulan untuk belajar di bumi Cendrawasih kepualauan Raja Ampat. Selepas isya kami berkumpul di gelanggang mahasiswa UGM, dengan barang bawaan ratusan kilogram. Mulai dari kebutuhan pribadi, keperluan tim, bahan makanan, kebutuhan program dan berbagai macam barang yang kami butuhkan.

                Setelah semua anggota berkumpul, doa bersama akhirnya tepat pulkul 21:00 kami meninggalkan tanah bulaksumur. Perjalanan darat 9 jam kami tempuh menggunakan bus sewaan dari Jogjakarta hingga bandara Djuanda Surabaya. Esok paginya, tepat jam enam pagi kami sampai di bandara Djuanda, dan harus menunggu penerbangan hampir 16 jam kemudian yang akan membawa kami ke kota sorong.

                Menunggu hampir 16 jam di bandara lumayan juga dan bukan hal mudah untuk menghabiskan waktu  selama itu dengan kondisi yang ada. Tapi beruntunglah, ada saja yang dilakukan ada yang belanja barang kebutuhan di kota surabaya, tidur, bermain kartu dan berbagai aktivitas untuk membunuh waktu. Tidak terasa hingga waktu beranjak malam dan saatnya kami untuk check-in. Saat check in, sempat ada masalah lantaran banyak barang2 yang ternyata dilarang untuk dimasukkan di pesawat dan sudah kami packing dalam kardus-kardus. Akhirnya dengan terpaksa kami membongkar dan mengakali beberapa barang bawaan. ternyata, barang yang kami bawa sekitar 600 kilogram dan mengalami kelebihan seratusan kilogram.

                Sekitar pukul 21:30, pesawat lepas landas dari tanah jawa menuju ujung selatan pulau sulawesi. Kami mendarat di bandara internasional sultan hasanuddin makassar, saat jam hampir menunjukkan pukul 00:00 WITA. Setibanya disana disana, kami harus menunggu sampai pukul 04:00 untuk melanjutkan penerbangan ke kota sorong. Lepas pukul 04:00, kami menuju pesawat untuk melanjutkan penerbangan. Jalan udara kami tempuh kurang lebih dua jam. Matahari pagi sorong, pukul 07:30-an WIT menyambut kedatangan kami dengan hangat. Akhirnya kami menginjakkan kaki di bandara Domine Eduward Osok, kota sorong.

                Kami sempat kaget saat mendarat di bandara DEO tersebut, apalagi saat memasuki terminal kedatangan penumpang. Jika di bandara kota lain, kebanyakan sudah menggunakan mesin otomatis sementara di bandara DEO masih belom berjalan. Peran mesin tersebut kemudian digantikan oleh porter-porter yang memindahkan barang bawaan penumpang. Sempat terjadi kepanikan, karena beberapa kardus dan dua tas barang pribadi rekan kami hilang, dan diduga nyasar sampai ke Ternate. Akhirnya setelah diurus, akan dikabari kemudian oleh petugas bandara dan maskapai yang kami tumpangi.

                Selepas dari bandara dan memasukkan barang bawaan kami ke bus sewaan. Kami menuju pelabuhan rakyat kota sorong untuk melanjutkan perjalanan ke raja ampat. Kurang lebih dua puluh menit, kami mencapai pelabuhan untuk kemudian memindahkan barang ke dalam lambung kapal. Kami tiba di kapal sekitar pukul 09:00 WIT, dan masih harus menunggu sampai pukul 14:00 sebelum kapal berangkat. Terpaksa, kami harus menunggu waktu lagi sebelum kapal Fajar Mulia beranjak dari kota sorong.

                Kira-kira pukul 14:30, kapan baru angkat jangkar dan meninggalkan pelabuhan. Kapal fajar Mulia ini merupakan kapal kelas ekonomi dan satu dari dua kapal umum yang melayani pelayaran sorong ke Waisai (ibukota Raja Ampat). Perjalanan laut kali ini kami tempuh dalam waktu 3 jam, di tengah perjalanan sempat melihat beberapa ekor lumba-lumba tidak jauh dari kapal. Setelah hampir tiga jam dilaut, akhirnya kami tiba di pelabuhan Raja Ampat sekitar pukul 17:30. setelah perjalanan panjang kami, darat-udara-laut selama hampir 48 jam….

                Sore ini kami disambut oleh langit sore yang indah, perpaduan indah laut dan sore Raja Ampat. Dan perjalanan kami baru dimulai disini.. raja ampat, sepotong surga di Indonesia…

THE JOURNEY BEGINS!

#inspiranesia1

Tidak terasa hari di tahun ini sudah memasuki pertengahan tahunnya, tidak terasa sembilan juli sudah tiba di depan mata. Perjalanan sembilan bulan ke belakang menjadi saksi persiapan yang kami lakukan. Dua puluh satu mahasiswa/i Gadjah  Mada pergi ke timur untuk membaktikan dirinya bersama masyarakat distrik teluk mayalibit, kabupaten raja ampat, provinsi papua barat.

Jauh dari rumah, jauh dari kenyamanan, merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Belajar untuk lebih menjadi manusia, berbagi.

Bukan sekedar sebuah pemenuhan formalitas pendidikan bangku kuliahan, tapi mencari lebih tentang kehidupan..

Satu dari pengalaman yang tak akan kami lupakan,  dan tak kan orang lain rasakan.

Tim KKN PPM UGM unit 216, Teluk Mayalibit, Raja Ampat 2012

Kami berduapuluh satu, mahasiswa/i Gadjah Mada…

Perjalanan kami dimulai, untuk negeri..

Indonesia Raya

Gambar

 

MENDIDIK INDONESIA (II)

#inspiranesia5

Berbicara mengenai pendidikan di negeri ini, seolah berbicara mengenai masalah yang tidak ada habisnya. Kita juga tidak memungkiri masih banyak permasalahan yang mendera dunia pendidikan di Indonesia. Masalah yang timbul mulai dari pemerataan pendidikan, keadaan sarana prasana penunjang pendidikan, masalah tenaga pengajar dan masih banyak masalah lain. Beberapa masalah ini juga kami hadapi langsung di lapangan saat kami melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata di Kampung Warsambin, Distrik Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat.

Di Kampong Warsambin yang merupakan ibukota Distrik Teluk Mayalibit memiliki dua buah sekolah yaitu SD YPK Sion dan SMP Negeri 12 Raja Ampat. Di Distrik Teluk Mayalibit ini terdiri dari empat kampung, dan disetiap kampung memiliki sekolah dasar. Sedangkan, untuk sekolah menengah pertama hanya ada satu yaitu SMPN 12 itu tadi. Bahkan SMP Negeri 12 raja Ampat menjadi satu-satunya sekolah menengah pertama yang ada di kawasan Teluk Mayalibit.

Bidang pendidikan juga menjadi salah satu program yang kami laksanakan dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata ini. Di kesempatan Kuliah Kerja Nyata inilah, kami berhadapan langsung dengan realita pendidikan yang ada di Indonesia. Kurang lebih tiga tahun kami sudah menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Mayoritas dari kami juga mendapatkan pendidikan yang sudah nyaman dan maju sedari tingkat sekolah dasar, kondisi yang sangat jauh kami temukan dilokasi KKN kami ini.

Selama ini, berbagai realita pendidikan yang ada di Indonesia hanya kami saksikan di televisi, kami baca di berita media cetak dan kami saksikan di berbagai media lain, kini kami rasakan langsung. Ketidakmerataan pendidikan, keterbatasan tenaga pengajar, kualitas pendidikan yang rendah kami saksikan langsung dan kami rasakan langsung bersama mereka. Tapi ada satu hal yang harus dibanggakkan dari mereka, ditengah keterbatasan semangat belajar mereka masih sangat tinggi.

Memang, jika kita berbicara mengenai masalah pendidikan seolah kita menemukan masalah yang tak kunjung usai. Namun, let’s stop cursing the darkness and light the candle. Stop complaining about the problem, and lets being part of solution. Kondisi inilah yang kemudian membuat anak muda harus mengambil peranan dan setidaknya berbuat walaupun sedikit untuk perubahan negeri.

Saya kemudian teringat tentang sejarah dan awal mulanya mengapa program Kuliah Kerja Nyata ini ada di Universitas Gadjah Mada ini. Pada awal 1950, beberapa tahun setelah Universitas ini berdiri, sempat terjadi krisis tenaga pengajar. Kemudian Universitas ini mengadakan program Pegerahan tenaga mengajar  (PTM) yang salah satunya adalah Prof. Koesnadi Hardjosoemantri (mantan rektor UGM) dan beberapa mahasiswa lain. mereka disebar ke beberapa daerah untuk menjadi pengajar SMA-SMA. Inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal adanya kegiatan KKN.

Setengah abad sejak PTM pertama kali dilakukan yang kemudian mengisnpirasi Anies Baswedan untuk mendirikan Gerakan Indonesia MEngajar. GIM lahir sebagai bentuk perbaikan pendidikan dan investasi masa depan bangsa. Gerakan ini mengirim sarjana-sarjana untuk menjadi pengajar sekolah dasar diberbagai tempat pelosok Indonesia.  Gerakan Indonesia Mengajar inilah yang juga menginspirasi kampus-kampus membuat pengajaran bagi masyarakat. Gerakan lingkungan kampus untuk ikut mendidik masyarakat inilah yang memang harusnya dilakukan sebagai kaum terdidik.

Memang, waktu kami melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata di Teluk Mayalibit hanya sekitar satu bulan lamanya. Semoga apa yang kami lakukan untuk dunia pendidikan ini bermanfaat bagi anak-anak di sana dan bagi negeri kami Indonesia.

SUMPAH PEMUDA 2.0

Delapan puluh empat tahun telah berlalu sejak kongres pemuda II terlaksana di jakarta. Kongres pemuda tersebut menjadi satu poin penting dalam sejarah kepemudaan bagi pemuda yang hidup di Nusantara waktu itu. Kongres pemuda lahir sebagai titik equilibrium perjuangan dan visi kebangsaan pemuda-pemudi nusantara awal abad 19. Kongres pemuda lahir sebagai perwujudan adanya sebuah mimpi, perasaan dan jiwa untuk menjadi satu.

Kongres pemuda 1928 mempertemukan berbagai kalangan pemuda-pemudi Indonesia untuk membentuk sebuah imagine community bernama Indonesia. Pasca 1908, banyak berdiri organisasi-organisasi pemuda dengan berbagai latar belakang, mulai dari agama, ekonomi, perjuangan, ilmu, dan banyak lagi. Namun, bisa dikatakan mereka masih bergerak sendiri-sendiri, belum ada kesamaan gerak padahal tujuan mereka sama untuk Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Kongres pemuda 1928, ditandai dengan lahirnya tiga butir pernyataan yang kemudian pada tahun 1950-an diubah oleh Soekarno dan M. Yamin.

–          Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia

–          Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia

–          Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

 

Selain tiga butir hasil kongres diatas, kongres pemuda 1928 juga menjadi tempat pertama kali lagu Indonesia raya diperdengarkan oleh W.R Supratman. Meskipun waktu itu hanya diputar instrumen menggunakan biolanya. Secara umum, kongres pemuda menjadi wadah pemersatu pemuda-pemudi nusantara diwaktu itu.

 

Kini, delapan puluh empat tahun berlalu nampaknya Indonesia menghadapi kondisi yang sama dengan era sebelum 1928. Pasca reformasi 1998, Indonesia memasuki era baru yang disebut reformasi yang katanya kemudian menjadikan bangsa ini bangsa yang lebih demokratis. Reformasi ’98 membuat organisasi yang bersifat kepemudaan lahir begitu banyak dengan berbagai latar belakangnya. Bisa dikatakan oerganisasi pemuda ini juga melakukan hal yang sama, gerak yang masih sendiri-sendiri sedikit sekali adanya keesatuan dan kesamaan gerak.

 

Oleh karena itu, pemuda-pemudi Indonesia di era sekaranga harus bersatu bersama membentuk kolaborasi dalam beraksi. Permasalahan mengenai kondisi bangsa saat ini menjadi isu bersama untuk dituntaskan, korupsi, kemiskinan, dan keterbelakangan. Oleh karena itu, momentum perbaikan bangsa menjadi hal yang paling urgent untuk dilaksanakan. bukan sekedar organisasi pemuda yang kongkow, kumpul bersama tapi membentuk sebuah gerakan besar yang berdasar pada idealisme kolektif dan visi bersama untuk Indonesia yang lebih merdeka, berdaulat dan sejahtera.

 

”karena yang benar bukan dijadikan satu, tapi dijadikan bersatu” @pandji

MENDIDIK INDONESIA

Berbicara mengenai mahasiswa, maka tidak bia dipisahkan dari sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara. Mahasiswa dalam berbagai bentuk aksinya selalu memiliki peranan yang signifikan bagi bangsa dan negaranya.

Mahasiswa kini bukan lagi dianggap sebagai agent of change tapi sudah menjadi director of change. Mahasiswa sudah seharusnya ikut serta dalam kontribusi nyata melakukan sebuah perubahan. Seringkali kita saksikan mahasiswa hanya melakukan aksi-aksi jalanan, tanpa melakukan perbuatan bermanfaat yang nyata. Hal ini yang harusnya sudah ditinggalkan dan memilih cara-cara lain yang lebih positif dan solutif.

Kondisi pendidikan Indonesia yang kacau saat ini menuntut peran mahasiswa untuk turun langsung. Jika kita melihat realita yang terjadi masalah pendidikan belum sanggup diselesaikan oleh pemerintah. Banyak sekali permasalahan yang menyangkut penyelenggaraan infrastruktur dan suprastruktur pendidikan yang masih terjadi. Masalah-masalah tersebut yang hingga kini masih membuat pendidikan di Indonesia belum merata dan masih tertinggal dari bangsa lain.

Dengan dunia pendidikan yang seperti ini, seringkali timbul pertanyaan apakah mahasiswa bisa melakukan sesuatu yang berarti? Pertanyaan inilah yang bukan hanya  sekedar harus dijawab tapi juga  dilakukan secara nyata. Mahasiswa Indonesia ternyata sudah melakukannya sejak lima puluh tahun yang lalu. Pada era tahun 1950-an, alm. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri (mantan Rektor UGM) yang saat itu masih menjadi mahasiswa sudah membuktikannya. Beliau bersama beberapa mahasiswa UGM dikerahkan untuk  mengajar dan mendirikan sekolah lanjutan tingkat atas (SMA)  di beberapa lokasi luar pulau Jawa. Kegiatan ini dikenal dengan nama Pengerahan tenaga Mahasiswa (PTM).

Kegiatan PTM inilah yang dikemudian hari menjadi inspirasi lahirnya Kegiatan Kuliah Kerja Nyata. Dalam kegiatan KKN inilah mahasiswa diterjunkan untuk langsung berinteraksi dan melakukan kontribusi yang nyata untuk masyarakat. Berbagai program dilakukan Dalam kegiatan KKN dan pendidikan menjadi salah satu program utamanya.

Selain program KKN seperti diatas, PTM juga mengispirasi lahirnya Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) yang diinisasi oleh Anies Baswedan. Format GIM ini menerjunkan banyak fresh graduate untuk terjun langsung menjadi pengajar  sekolah dasar di pelosok Indonesia. Setelah lahirnya gerakan ini kemudian bermunculan Gerakan Kampus Mengajar di berbagai perguruan tinggi. Kesempatan inilah yang harusnya dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk berkontribusi nyata bagi peerbaikan pendidikan.

“Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik” inilah kalimat yang sering sekali disampaikan oleh Anies Baswedan mengenai tanggung jawab mahasiswa sebagai kaum terdidik. Mahasiswa harus mengambil peranan untuk membuat pendidikan lebih baik. Karena mahasiswa adalah penggerak perubahan, maka teruslah bergerak dan berbuat untuk negeri yang lebih baik.

DARI KAMPUS UNTUK PENDIDIKAN INDONESIA

“Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik” inilah kalimat yang sering sekali disampaikan oleh penggagas Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan.

Kurang meratanya kuantitas dan kualitas tenaga pendidik di Indonesia masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Kaisar Hirohito pada tahun 1945 setelah Jepang di bom atom oleh tentara sekutu, hal yang beliau tanyakan adalah berapakah jumlah guru yang masih hidup. Hal ini menunjukkan begitu besarnya peranan guru bagi suatu negara.

Melihat kondisi  ini mahasiswa sebagai golongan yang dicap sebagai kaum terdidik harusnya mengambil peranan. Mahasiswa bukan pada tempatnya hanya melakukan aksi-aksi jalanan menuntut perbaikan sistem pendidikan tanpa melakukan suatu tindakan apapun. Idealnya mahasiswa bisa dan harus melakukan sesuatu untuk melakukan perbaikan. Hal ini bukan isapan jempol belaka, mantan rektor UGM alm. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri pernah membaktikan  dirinya untuk menjadi pendidik di Kupang, Nusa Tenggara Timur. .

Saat masih menjadi mahasiswa alm. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri menginisiasi gerakan di UGM untuk mejadi pengajar di SMA-SMA di berbagai wilayah di Indonesia. Program ini diberi nama Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM), yang dikemudian hari mengisnpirasi kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di berbagai kampus di Indonesia.

Kegiatan PTM tersebut juga menginspirasi Anies Baswedan untuk mendirikan Gerakan Indonesia Mengajar belum lama ini. Gerakan Indonesia Mengajar mengirimkan banyak fresh graduate untuk menjadi pengajar di berbagai  sekolah dasar di berbagai wilayah Indonesia. Gerakan Indonesia mengajar menjadi tamparan bagi publik bahwa sudah seharusnya masyarakat khususnya mahasiswa tidak sekedar menuntut perbaikan tapi juga melakukan perbaikan itu sendiri.

Gerakan ini kemudian menginspirasi kampus-kampus untuk menjadi tenaga pendidik sukarela di berbagai tempat. Setidaknya dalam 2 tahun kebelakang, di berbagai kampus lahir gerakan-gerakan kampus mengajar, mulai yang diinisiasi kampus sendiri, gerakan internal, hingga gerakan eksternal mahasiswa. Hal ini tentu sangat positif bagi dunia pendidikan Indonesia ditengah kondisi pendidikan yang demikian.

Akan tetapi, menjamurnya gerakan positif ini bukan berarti tidak meninggalkan catatan penting. Sebagai gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa, perlu dijaga orientasi dan konsistensinya. Karena seringkali ditemukan hal yang dilakukan oleh mahasiswa hanya tebatas pada ceremonial dan ajang mencari citra yang baik saja. Tentu akan sangat berdampak signifikan jika lebih banyak lagi jumlah mahasiswa yang memiliki kepedulian dan berbuat yang terbaik untuk pendidikan di Indonesia. Dengan peningkatan pendidikan yang lebih berkualitas, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

PEMUDA MASA KINI

Tidak terasa peristiwa Sumpah Pemuda telah berlalu selama 83 tahun. Peristiwa yang telah menjadi tonggak yang penting dalam sejarah kebangsaan Indonesia.

Sumpah pemuda menjadi penanda penting bersatunya berbagai macam golongan pemuda dalam satu wadah bersama. Terjadinya sumpah pemuda menandakan pergeseran perjuangan kemerdekaan dari yang bersifat kedaerahan menjadi persatuan dan dari hard power menjadi diplomasi soft power. Pada masa ini, perjuangan dimotori oleh pergerakan kaum intelektual dan terdidik.

Golongan baru ini membawa perubahan yang sangat signifikan bagi Hindia Belanda pada masa itu. Banyak anak-anak pribumi yang kemudian berkesempatan mengenyam pendidikan dan kemudian meningkatkan taraf hidupnya. Selain itu, perjuangan menjadi lebih kuat karena ada isu bersama yang diangkat seiring memudarnya semangat kepentingan berlatarkan kedaerahan. Dansemua pejuang kala membawa isu yang sama, yakni penderitaan penjajahan dan mewujudkan negara merdeka.

Sumpah Pemuda melahirkan mimpi besar mengenai Imagine Country yaitu Indonesia Raya. Selain itu juga untuk pertama kalinya diperdengarkan instrumen lagu Indonesia Raya. Peristiwa itu menjadi inspirasi pergerakan di masa selanjutnya di mana pemuda menjadi penggerak perubahan dan menjadi aktor penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pemuda dengan kekuatan mudanya mampu berbuat banyak dalam kontribusi bangsa.

Dalam konteks Indonesia sekarang, nampaknya perlu momentum lagi untuk menyatukan berbagai elemen bangsa yang mulai terpecah lagi. Banyak organisasi pergerakan pemuda maupun mahasiswa yang berdiri. Organisasi ini memiliki konsentrasi dalam berbagai bidang, mulai keilmuan, politik, ekonomi, sosial dan masih banyak lagi. Namun berdirinya organisasi pergerakan tersebut menimbulkan adanya suatu kekhawatira; organisasi-organisasi tersebut berdiri membawa visi dan gerak masing masing, tidak ada kesatuan bahkan terkadang saling memusuhi dan mematikan.

Dua gambaran diatas sebenarnya menggambarkan kondisi yang sama, yaitu mengenai kesatuan pergerakan dan keberhasilan dalam perubahan. Perlu adanya common enemy atau musuh bersama yang dihadapi sehingga terjadi kesamaan nasib. Kondisi pada 1928 dan Indonesia hari ini sangat relevan jika dilihat dari sisi integrasi perjuangan.

Jika pada 1928 para pemuda menghadapi masalah penjajahan dan perjuangan kemerdekaan. Pada konteks hari ini peliknya masalah bangsa harusnya menjadi pemersatu organisasi pergerakan yang ada sekarang. Bukan hanya masalah bangsa saja tetapi visi mengenai indonesia yang lebih juga harus menjadi perhatian bersama. Bersatulah pemuda untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

PERINGATAN BAGI PEMIMPIN

Anies Baswedan

Makin hari kegalauan itu tumbuh makin pesat, tetapi berhentilah mengatakan bangsa ini bobrok. Hentikan tudingan bahwa bangsa ini tenggelam. Tidak! Bangsa ini sedang bangkit dan akan makin tinggi berdirinya.

Lihatlah rakyat di sana-sini, bangun sebelum pagi, penuhi pasar rakyat, padati jalan dan kelas, menyongsong kehidupan. Dengan sinar lampu apa adanya mereka coba sinari masa depan sebisanya. Petani, guru, nelayan, pedagang, atau tentara di tepian republik jalani hidup berat penuh tanggung jawab. Di tengah kepulan polusi pekat, rakyat kota menyelempit mencari masa depan. Mereka rebut peluang, jalani segala kesulitan tanpa pidato keprihatinan. Rakyat yang tegar dan tangguh. Denyut geraknya membanggakan.

Kegalauan republik ini bukan bersumber pada rakyat, melainkan pada pengurus negara yang seakan berjalan tanpa target. Deretan agenda penting dan urgen jadi wacana, tetapi tidak kunjung jadi realitas.

Pengurus republik sukses membangun kekesalan kolektif dan menanam bibit pesimisme. Pimpinan kini menuai kekecewaan. Harapan, kepercayaan, pengertian, toleransi, kesabaran, dan permakluman rakyat kepada pemimpin dikuras terus. Apakah dikira stok permakluman itu tanpa batas?

Dengan hormat saya sampaikan: stok itu ada batasnya dan sudah menipis. Semua ingin lihat hasil. Tak mau lagi dengar keluh kesah, tak hendak dengar kata prihatin keluar dari pemimpin. Republik ini perlu pemimpin yang hadir untuk menggelorakan percaya diri, bukan menularkan keprihatinan. Pemimpin tak boleh kirim ratapan, pemimpin harus kirim harapan.

Sebatas pidato dan wacana

Hari ini Indonesia memasuki era demokrasi etape ketiga. Kepresidenan periode kedua. Tidak pernah ada dalam sejarah republik ini seorang anak bangsa dipilih jadi pemimpin dengan suara sebanyak saat Presiden Yudhoyono di tahun 2009. Semua persyaratan untuk melakukan dan menuntaskan langkah-langkah besar ada di sana. Tapi mana langkah besar itu: infrastruktur ekonomi? Kepastian hukum? Integritas di sekolah? Tegas kepada pengemplang pajak? Pemangkasan benalu APBN? Konsistensi kebijakan? Reformasi birokrasi? Jaminan kebinekaan bangsa? Perlindungan warga bangsa?

Harapan yang tinggi untuk membereskan agenda penting baru sebatas pidato dan wacana. Republik perlu realitas. Pemerintah memang punya capaian, tetapi jika ada keberanian untuk menggelontorkan terobosan-terobosan besar di sektor penting, maka capaian itu akan melonjak. Kekecewaan tumbuh bukan semata karena pemerintah tak membawa hasil, melainkan karena terlalu banyak peluang terobosan dan perubahan yang disia-siakan. Sebutlah soal energi atau infrastruktur sistem logistik (jalan, pelabuhan, bandara, dan lain-lain), terobosan di sini bisa membuat ekonomi melejit. Atau terobosan besar dalam penegakan hukum. Perusak kebinekaan didiamkan, pengemplang pajak tak dijerat. Hukum tegak kokoh tanpa kompromi bagi rakyat kecil, tapi hukum loyo lunglai di depan rakyat besar.

Ini semua dampak absennya keberanian menerobos. Semua serba alakadarnya. Amunisi politik yang dahsyat itu tak digunakan. Republik ini butuh pemimpin yang mau turun ke lapangan, pemimpin kerja dan bukan pemimpin upacara. Rakyat tidak perlu pengumuman hasil rapat, tapi ingin lihat implementasinya.

Lihat sejarah kita, gamblang sekali. Republik ini didirikan oleh orang-orang yang berintegritas. Integritas itu membuat mereka jadi pemberani dan tak gentar hadapi apa pun. Bukan pencitraan, tapi integritas dan keseharian yang apa adanya membuat mereka memesona. Mereka jadi cerita teladan di seantero negeri.

Kini republik membutuhkan pemimpin yang berani tegakkan integritas, berani perangi ”jual-beli” kebijakan dan jabatan, pemimpin yang mau bertindak tegas melihat APBN untuk rakyat ”dijarah” oleh mereka yang punya akses. Ya, pemimpin yang bernyali menebas penyeleweng tanpa pandang posisi atau partai, dan bukan pemimpin yang serba mendiamkan seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Republik ini perlu pemimpin yang mendorong yang macet, membongkar yang buntu, dan memangkas berbenalu. Pemimpin yang tanggap memutuskan, cepat bertindak, dan tidak toleran pada keterlambatan. Pemimpin yang siap untuk ”lecet-lecet” melawan status quo yang merugikan rakyat, berani bertarung untuk melunasi tiap janjinya. Republik ini perlu pemimpin yang memesona bukan saja saat dilihat dari jauh, tetapi pemimpin yang justru lebih memesona dari dekat dan saat kerja bersama.

Bukan pemimpin yang selalu enggan memutuskan dan suka melimpahkan kesalahan. Bukan pemimpin yang diam saat rakyat didera, lembek saat republik dihardik negara tetangga, tapi lantang dan keras justru saat diri pribadi atau keluarganya tersentuh. Pemimpin yang tak gentar dikatakan mengintervensi karena mengintervensi adalah bagian dari tugas pemimpin dan pembiaran tidak boleh masuk dalam daftar tugas seorang pemimpin.

Jika Presiden Yudhoyono tidak segera mengubah cara menjalankan pemerintahan, maka saya harus mengingatkan bahwa bangsa Indonesia bisa memasuki persimpangan jalan yang berbahaya.

Jalan pertama adalah meneruskan kepemimpinan sampai di 2014 agar proses demokrasi berjalan normal tapi rakyat mencicipi hasil yang alakadarnya, deretan peluang kemajuan hilang tanpa bekas. Keterlambatan dan pembiaran jadi ciri beberapa tahun ke depan. Bahkan lunglainya penegakan hukum adalah resep mujarab menuju negara kacau.

Jalan kedua mulai menyeruak. Jalan berbahaya tapi suara ini mulai berkembang sebagai respons atas kelambatan dan pembiaran sistemik ini: berhenti di tengah jalan dan berikan kepada orang lain untuk memimpin. Suara macam ini bisa merusak pranata siklus demokrasi yang dibangun dengan sangat susah payah. Suara ini tumbuh karena keyakinan bahwa lewat jalan terjal ini bisa terjadi pembongkaran atas pembiaran dan kelambanan; agar rakyat tak dirugikan terus-menerus.

Tak optimal

Semua tahu sistem presidensial menjamin presiden bisa bekerja sebagai eksekutor pemerintahan dan melindunginya agar tak dapat diberhentikan oleh alasan politis. Hari ini yang dihadapi Indonesia situasi sebaliknya. Periode dijamin aman oleh konstitusi, tetapi presiden tak optimal jalankan otoritasnya. Keterlambatan berjejer dan pembiaran berderet. Periode fixed lima tahun itu bukan mengamankan agar kerja cepat, kini malah jadi penyandera bangsa dari gerak kemajuan cepat.

Memang presiden bukan dewa atau superman. Tidak pantas semua masalah ditumpahkan ke pundak pemimpin. Akan tetapi, presiden bisa menentukan suasana republik. Pemimpin adalah dirigen yang menghadirkan energi, nuansa, dan aurora di republik ini. Pemimpin bisa fokus menguraikan masalah strategis dan urgen bagi percepatan pelunasan janji-janjinya.

Presiden Yudhoyono harus sadar bahwa caranya menjalankan pemerintahan itu memiliki efek tular. Kelugasan, ketegasan, keberanian, kecepatan, keterbukaan, kewajaran, kemauan buat terobosan, dan perlindungan kepada anak buah bahkan kesederhanaan protokoler itu semua menular. Tapi kebimbangan, kehati-hatian berlebih, kelambatan, ketertutupan, formalitas kaku, pembiaran masalah, orientasi kepada citra dan ketaatan buta pada prosedur itu juga menular. Menular jauh lebih cepat dan sangat sistemik.

Rakyat republik ini sudah kerja keras. Lihat di segala penjuru Indonesia. Mulai dari kampung kumuh-sumuk tak jauh dari istana, di puncak-puncak pegunungan dingin, di tepian pantai sebentangan khatulistiwa: rakyat republik ini serba kerja keras. Mereka mau maju, mereka mau hadirkan kehidupan yang lebih baik bagi anak cucunya. Dan, yang pasti mereka tak biasa tanya siapa yang jadi pemimpin. Buat rakyat banyak tak terlalu penting ”siapa”-nya, yang penting lunasi semua janjinya.

Ini adalah sebuah peringatan apa adanya, semata-mata agar Indonesia tidak menemui persimpangan jalan itu. Ingat, rakyat negeri ini sudah bekerja keras dan ”berlari” cepat. Pengurus negara harus memilih mengimbangi kecepatan rakyat atau ditinggalkan rakyat.

Anies Baswedan Rektor Universitas Paramadina

 

http://nasional.kompas.com/read/2011/07/25/03064679/peringatan-bagi-pemimpin