UJIAN TARING SANG MACAN

Menjadi penduduk ibukota Jakarta, tentu saja sangat akrab dengan klub sepakbola kebanggaan ibukota yaitu Persija Jakarta. Menjadi hal lumrah ketika menjadi penduduk jakarta sekaligus menjadi pendukung klub sepak bola ini. Klub ini tentu saja memiliki perjalanan panjang bagi perkembangan sepakbola Indonesia. Hingga saat ini, Persija Jakarta masih menjadi tim yang cukup disegani di persepakbolaan nasional.

Berbicara mengenai Persija, ada dua hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu klub pemain bintang dan pendukung setianya the Jakmania. Beberapa musim terakhir skuad persija diisi oleh banyak pemain bintang dan menyumbang banyak pemain bagi tim nasional indonesia. Namun, kondisi tersebut berubah setelah terjadinya dualisme sepakbola yang melanda Indonesia. Tidak ada pemain Persija menghiasi timnas Indonesia sekitar satu tahun, hingga bergabungnya Bambang Pamungkas di AFF kemarin.

The Jakmania, merupakan salah satu supporter fanatik yang ada di Indonesia dan memiliki jumlah simpatisan yang cukup banyak. Menurut data yang ada, jumlah The Jakmania yang terdaftar dengan KTA The Jakmania lebih dari 50.000. Jumlah ini belum lagi para penggemar Persija di berbagai belahan Indonesia maupun mungkin di luar negeri. Loyalitas The Jak ini kemudian diberikan nomor punggung 12 di skuad Persija, sehingga tidak ada pemain dengan nomor punggung 2 di klub ini.

Berbicara mengenai gelar juara, sudah lama publik sepakbola Jakarta merindukannya. Sudah lama tidak ada gelar juara ataupun piala liga nasional yang dibawa pulang ke Ibukota. Beberapa piala yang didapatkanpun, merupakan trofi pramusim maupun kompetisi mini. Gelar juara liga nasional yang sudah dikoleksi sampai musim ini mencapai sepuluh buah, gelar yang didapatkan pun terakhir tahun 2001.

Selain itu, dualisme sepakbola yang terjadi di Indonesia juga mengorbankan Persija. Saat menjelang perhelatan musim lalu, lahir dua Persija yang mengatasnakamakan sebagai klub kebanggan ibukota. Meskipun, pada oktober kemarin akhirnya Persija (ISL) memenangkan gugatan di pengadilan dan kini resmi hanya ada satu Persija Jakarta. Tapi, tentu hal ini sangat merugikan dan mencoreng sepakbola Jakarta dengan dualisme Persija ini.

Berbicara peringkat klasemen di musim lalu, Persija menempati peringkat 5 dari 18 tim yang berkompetisi di ISL. Hasil ini melorot dua tingkat jika dibandingkan peringkat di akhir musim sebelumnya. Sekali lagi, Persija belum mampu menjadi jawara di Indonesian Super League. Lagi-lagi Jakarta harus menunggu gelar kesebelas entah hingga kapan.

Ketika gelaran ISL tahun 2013 hendak digulirkan, persiapan yang dilakukan manajemen Persija-pun seperti angin-anginan. Sebagai tim ibukota yang beberapa tahun belakangan bertabur bintang, menghadapi musim ini hal tersebut tidak kita lihat. Dalam bursa transfer pemain baru, persija hanya mengambil pemain yang tidak berlabel bintang seperti biasanya. Selain itu, persija juga hanya mengandalkan tiga pemain asing yang notabene pemain lama (Robertino, Fabiano, dan Pedro) tidak menambah/mengganti dengan pemain asing baru.

Hal ini menjadi kebijakan pelatih yang melatih Persija, Iwan Setiawan. Sejak kedatangannya menangani persija, transfer Persija tidak seperti biasanya. Iwan lebih banyak mencari pemain muda dengan transfer ataupun pemain-pemain muda potensial dari klub internal Persija. Disatu sisi, hal ini memberikan dampak positif untuk investasi pemain dalam jangka panjang. Setidaknya, hal ini masih dirasakan positif dengan melihat pencapaian Persija di musim lalu.

Kondisi yang lebih membuat para fans ketar-ketir adalah boikot yang dilakukan oleh sepuluh pemain inti persija musim lalu. Kita ketahui bersama Bambang, Ismed, Leo, Nanak, Andritany, Ramdani, Amarzukih, Galih, Johan Juansyah, dan Rahmat Afandi belum memperpanjang kontraknya dengan persija di musim ini. Hal ini, karena gaji beberapa bulan di musim lalu belum dilunasi dan nilai tawaran kontrak baru yang harganya belom menemui titik kesepakatan. Kondisi ini, tentu mengecewakan banyak fans Persija sendiri. Akhirnya, seperti match pertama lalu, hampir semua line-up merupakan pemain muda dan baru bagi Persija.

Melihat hal ini, kemudian muncul polemik atas nama loyalitas pemain terhadap klub. Pemain kemudian diminta mengerti dan memahami kondisi keuangan manajemen klub, dan hal ini bukan hanya terjadi di Persija saja. Beberapa klub ISL dan IPL mengalami krisis keuangan dan masih ada tunggakan gaji pemainnya untuk musim lalu. Disisi lain, pemain tentu saja punya kehidupan yang membutuhkan uang sebagai penggerak kehidupannya. Hal terburuk, kita lihat kasus meninggalnya Diego Mendieta (eks Persis Solo) yang tidak mampu membayar biaya rumah sakitnya sehingga berakhir tragis. Tentu saja kondisi ini tambah mencoreng wajah sepakbola Indonesia yang katanya menuju sepakbola yang lebih baik.

Kembali ke masalah Persija, akhirnya hingga malam ini empat pemain (Galih, Nanak, Johan dan Ismed) kembali memutuskan membela Persija musim ini. Ramdani sendiri sudah meninggalkan Persija dan berseragam Sriwijaya FC untuk musim ini. Sedangkan, pemain lain masih menunggu kepastian entah hingga kapan. Tentu saja hal seperti ini sangat disayangkan, melihat kontribusi pemain tersebut bagi Persija di musim lalu. Terlalu seringnya gonta-ganti pemain dan kontrak singkat semusim juga menyumbang inkonsistensi sebuah tim, padahal untuk membangun tim yang solid tidak butuh waktu yang instan.

Belum lagi masalah stadion. seperti semua klub sepakbola yang ada di Indonesia, belum ada kesepakbolaan yang status kepemilikan stadion dimiliki sendiri. Klub-klub di Indonesia, harus menyewa stadion milik pemerintah untuk digunakan sebagai home base baik untuk pertandingan kandang, latihan maupun lainnya. Bahkan, dua kali stadion yang biasa digunakan olah persija digusur oleh pemda DKI. Stadion menteng, yang dulu digunakan untuk latihan dibongkar dan digantikan dengan taman menteng. Sementara, stadion lebak bulus akan dibongkar untuk diganti menjadi stasiun MRT (Mass Rapid Transportation). akhirnya, dua musim terakhir Persija menggunakan Gelora Bung Karno sebagai tempat pertandingan dan GOR Ciracas sebagai tempat latihan. Belum lagi, jika GBK tidak bisa digunakan maupun izin Kepolisian tidak keluar maka pertandingan Persija akan dipindah keluar kota. Seperti beberapa pertandingan musim lalu, Persija terpaksa beberapa kali mengungsi ke Solo, Jogja dan beberapa tempat lain.

Memang, beberapa musim terakhir masalah tidak pernah lepas dari Persija. Taring-taring tajam sang Macan Kemayoran sering tergoyang. Masyarakat jakarta juga sudah rindu gelar juara dibawa kembali ke Ibukota. Melihat semuanya, kalo bukan masyarakat Jakarta yang mendukung Persija Jakarta siapa lagi.

Semoga Persija bisa lebih baik musim ini dan membanggakan masyarakat Jakarta.

 Gambar

jak-orange-army.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s