DARI KAMPUS UNTUK PENDIDIKAN INDONESIA

“Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik” inilah kalimat yang sering sekali disampaikan oleh penggagas Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan.

Kurang meratanya kuantitas dan kualitas tenaga pendidik di Indonesia masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Kaisar Hirohito pada tahun 1945 setelah Jepang di bom atom oleh tentara sekutu, hal yang beliau tanyakan adalah berapakah jumlah guru yang masih hidup. Hal ini menunjukkan begitu besarnya peranan guru bagi suatu negara.

Melihat kondisi  ini mahasiswa sebagai golongan yang dicap sebagai kaum terdidik harusnya mengambil peranan. Mahasiswa bukan pada tempatnya hanya melakukan aksi-aksi jalanan menuntut perbaikan sistem pendidikan tanpa melakukan suatu tindakan apapun. Idealnya mahasiswa bisa dan harus melakukan sesuatu untuk melakukan perbaikan. Hal ini bukan isapan jempol belaka, mantan rektor UGM alm. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri pernah membaktikan  dirinya untuk menjadi pendidik di Kupang, Nusa Tenggara Timur. .

Saat masih menjadi mahasiswa alm. Prof. Koesnadi Hardjasoemantri menginisiasi gerakan di UGM untuk mejadi pengajar di SMA-SMA di berbagai wilayah di Indonesia. Program ini diberi nama Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM), yang dikemudian hari mengisnpirasi kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di berbagai kampus di Indonesia.

Kegiatan PTM tersebut juga menginspirasi Anies Baswedan untuk mendirikan Gerakan Indonesia Mengajar belum lama ini. Gerakan Indonesia Mengajar mengirimkan banyak fresh graduate untuk menjadi pengajar di berbagai  sekolah dasar di berbagai wilayah Indonesia. Gerakan Indonesia mengajar menjadi tamparan bagi publik bahwa sudah seharusnya masyarakat khususnya mahasiswa tidak sekedar menuntut perbaikan tapi juga melakukan perbaikan itu sendiri.

Gerakan ini kemudian menginspirasi kampus-kampus untuk menjadi tenaga pendidik sukarela di berbagai tempat. Setidaknya dalam 2 tahun kebelakang, di berbagai kampus lahir gerakan-gerakan kampus mengajar, mulai yang diinisiasi kampus sendiri, gerakan internal, hingga gerakan eksternal mahasiswa. Hal ini tentu sangat positif bagi dunia pendidikan Indonesia ditengah kondisi pendidikan yang demikian.

Akan tetapi, menjamurnya gerakan positif ini bukan berarti tidak meninggalkan catatan penting. Sebagai gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa, perlu dijaga orientasi dan konsistensinya. Karena seringkali ditemukan hal yang dilakukan oleh mahasiswa hanya tebatas pada ceremonial dan ajang mencari citra yang baik saja. Tentu akan sangat berdampak signifikan jika lebih banyak lagi jumlah mahasiswa yang memiliki kepedulian dan berbuat yang terbaik untuk pendidikan di Indonesia. Dengan peningkatan pendidikan yang lebih berkualitas, untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s