PENDIDIK UNTUK NEGERI

No teacher: no education. No education: no economic and social development! (Ho Chi Minh)

Dalam pembukaan konstitusi republik Indonesia, tercantum tujuan negara adalah dan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu bentuk untuk memajukan kesejahteraan dan mencerdaskan adalah melalui saluran pendidikan. Akan tetapi, pendidikan juga harus dipandang sebagai alat untuk rekayasa struktural masyarakat serta mengangkat strata sosial masyarakat.

Sebuah ungkapan dari Ho Chi Minh, mantan presiden Vietnam yang sangat mendalam dan mendasar. Bahwa pada hakikatnya masalah ekonomi dan pembangunan sosial berasal dari pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan akan menjadi berkualitas dan berhasil tergantung dari guru. Guru sebagai pengajar yang mentransfer ilmu dan memberikan pengajaran kepada siswa. Gurulah yang kemjudian dalam istilah jawa disebut sebagai digugu dan ditiru, digugu mengandung artian didengarkan dan ditiru artinya menjadi teladan.

Masalah pengajar inilah yang kemudian juga mengancam Indonesia, negeri tercinta kita. Masalah yang paling nyata adalah distribusi tenaga pengajar, kuantitas dan kualitas tenaga pengajar. Menurut data world bank kekurangan guru di sekolah di kota mencapai 21%, sekolah di desa 37%, sekolah di daerah terpencil 66%, dan sekolah di seluruh Indonesia  hingga 34%. Selain masalah kuantitas, kualitas guru pun masih dipertanyakan. Sekitar 78% guru di Indonesia tidak berkompeten untuk mengajar di tingkat sekolah dasar (SD).

Pekerjaan menjadi tenaga pengajar atau guru pada era sekarang dianggap banyak pihak menjadi pekerjaan kelas 2. Tingkat kesejahteraan atau profit  yang didapatkan secara material masih kurang. Padahal, menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Anak-anak negeri terbaik banyak yang enggan menjadi guru dengan alasan ilmu yang didapatkan akan sia-sia, pendapatan yang kecil, dan terlalu repot. Diisinya posisi tenaga pengajar yang bisa dikatakan berasal dari kaum kelas tengah berimbas pada tingkat pendidikan. Bisa kita ibaratkan siswa atau pelajar sebagai modal dan guru sebagai mesin cetak. Ketika mesin cetak untuk produksi berkualitas jelek, maka input barang yang akan diproses akan menjadi  output  yang kurang berkualitas pula.

Lulusan perguruan tinggi yang notabene dikelas utama, mengannggap dengan bekerja pada swasta akan mendatangkan pendapatan yang tinggi. kondisi inilah yang menjadi ancaman yang serius bagi bangsa indonesa, kurangnya kualitas tenaga pengajar membuat pendidikan yang kurang berkualitas. Setelah terciptanya pendidikan yang kurang berkualitas berimbas pada mandegnya pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial. Tingkat pendidikan juga sangat erat kaitannya dengan kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat.

Jumlah rakyat indonesia yang mengenyam tingkat pendidikan dari dasar sampai tingkat perguruan tinggi digambarkan dengan piramida tegak. Jumlah input yang masuk di sekolah dasar, hanya akan menghasilkan output yang hanya 1:8. Sangat besar rasio yang dihasilkan, dengan arti dari 8 pelajar yang masuk disekolah dasar hanya akan menghasilkan satu lulusan perguruan tinggi.

Mahasiswa sebagai kaum terpelajar juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap realita pendidikan yang terjadi dibangsanya. Keadaan inilah yang membuat resah mantan Rektor UGM (alm.) Prof. Koesnadi Hardjasoemantri. Beliau semasa menjadi mahasiswa membuat karya nyata dengan Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) yang dipelopori oleh di tahun 1950. PTM ini bersama calon-calon sarjana Universitas gadjah Mada mengabdi di pelosok Indonesia. Mereka memberikan pengajaran terhadap siswa-siswa SMA. Program ini berjalan dalam kurun waktu 1950-1962, dan terbukti merangsang tingkat pendidikan di negeri ini. PTM  inilah yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya KKN (Kuliah Kerja Nyata) untuk calon sarjana di beberapa perguruan tinggi.

Setelah hampir 60 tahun, PTM menginspirasi Rektor Paramadina Anies Baswedan Ph.D membentuk Gerakan Indonesia Mengajar (GIM). GIM menyeleksi fresh and excellent graduate dari berbagai perguruan tinggi dan mengutus mereka menjadi pengajar di pelosok Indonesia. Para sarjana ini diseleksi dengan proses yang berkualitas dan diberikan tugas untuk memberikan pengajaran di sekolah dasar. Para pengajar dar GIM ini kemudian disebut sebagai pengajar muda. Mereka mengabdi pada negerinya menjadi pengajar selama satu tahun dan bertujuan meningkatkan taraf hidup daerah yang mereka tempati.

Dari kedua kondisi diatas membuktikan bahwa mahasiswa yang disebut-sebut sebagai agent of change harus bertindak nyata. Sebagai kaum terpelajar mahasiswa memiliki kewajiban untuk mengabdi dan mencerdaskan bangsanya. Setelah dilihat sukses melalui GIM angkatan pertama, kini berbagai gerakan dan organisasi mahasiswa berlomba-lomba menjadi pengajar. Dengan segala basis keilmuan yang dimiliki dimanfaatkan untuk berbagi kepada sesama. Inilah yang disebut sebagai mahasiswa. Bisa dilihat bahwa bangsa ini sepakat guru atau pengajar yang menjadi kunci suatu pendidikan.

Meskipun mahasiswa memiliki kepedualian yang tinggi, tapi yang seharusnya yang lebih bertanggung jawab adalah pemerintah. Posisi pemerintah sebagai pembuat kebjakan dan penyelengaraan pendidikan. Pemerintah harusnya meningkatkan partisipasi dan kualitas tenaga pengajar. Setelah pemerintah mampu meningkatkan kuantitas tenga pengajar kemudian meningkatkan kalitas dengan pelatihan dan pengembangan sistem pengajaran. Kemudian, meningkatkan kesejahteraan dan fasilitas penopang pendidikan. Fasilitas pendidikan, kelas, perpustakaan, dan buku persebarannya belum merata. Tidak heran setiap hari kita sakasikan ruang kelas yang ambruk, buku yang tidak terbeli.

Dengan peningkatan kualitas tenaga pengajar akan meningkatkan kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan akan meningkatkan pembangunan ekonomi dan sosial.

 

*essay ini diikutsertakan dalam lomba ESSAI IDEA BEM KM IPB, dan masuk 20 Besar Finalis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s