Tanda Tanya Demokrasi Mahasiswa

Kampus merupakan tempat menempa diri dan membentuk karakter serta kepribadian seorang mahasiswa. Pembentukan kapasistas diri seorang mahasiswa melalui kelas-kelas kuliah maupun kehidupan berorganisasi dalam kampus. Mahasiswa mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan kampus sebagai persiapan menghadapi arena sesungguhnya pasca keluar dari kuliah.

Dunia kampus bisa dikatakan sebagai representasi suatu sistem kenegaraan. Kampus menjadi miniatur kehidupan yang lebih besar dan lebih nyata.  Sistem demokrasi otomatis diterapkan dalam kehidupan berkampus. Dalam tata kelola organisasi, pemerintahan mahasiswa dan tata kehidupan kampus lainnya. Beberapa poin penting yang dijunjung tinggi dalam demokrasi adalah kebebasan berpendapat, kebebasan berkarya, persamaan hukum dan toleransi.

Kehidupan berorganisasi dalam tataran mahasiswa mutlak harus mendapatkan otoritas dan kesempatan yang luas. Kesempatan mahasiswa dalam organisasi haruslah juga diapresiasi oleh pihak kampus. Pihak kampus dalam hal ini adalah birokrat kampus seperti Rektor, dekan dan dosen. Stakeholder pemegang kebijakan membuka pintu seluas-luasnya untuk mahasiswa berekspresi. Mahasiwapun juga harus memanfaatkan kesempaatan yang diberikan ini dengan tanggung jawab dan kapasitas intelektual kaum terdidik.

Bangsa ini sempat memiliki catatan buruk dengan kebebasan berekspresi mahasiswa. Pasca terjadinya peristiwa Malari pada 1974 dan protes terhadap pelaksanaan pemilu 1977 pemerintah bertindak represif. Melalui kebijakannya pemerintah memberlakukan NKK/BKK. Kehidupan kampus dibungkam dengan alasan menganggu pemerintah, gerak mahasiswa dan kebebasan mahasiswa di renggut. Mahasiswa kehilangan arena untuk mengaktualisasikan diri dalam wadah organisasi kampus selama beberapa tahun. Kenangan buruk tersebut dihapus dengan peristiwa 1998, mahasiswa mendapatkan pentas yang tepat.

Pasca 1998, mahasiswa mulai mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berekspresi dan berpendapat. Saat ini sebuah ironi terjadi di beberapa perguruan tinggi. saat era demokrasi sudah berjalan masih ada praktik pengkerdilan gerak mahasiswa. Mahasiswa tidak sepakat dengan kebijakan yang diberlakukan kampusnya kemudian dibalas dengan repreifitas oleh pihak kampus. Mahasiswa mewujudkan ekspresi mereka dalam aksi demonstrasi maupun sindiran media. Kampus kemudian membalas dengan ancaman pembekuan gerak kemahasiswaan.  Dimana badan organisasi semisal BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) diberikan ancaman pembekuan program kerja dan penghentian dana.

Dalam era demokrasi seperti ini, praktek seperti itu sangat tidak dibenarkan. Pihak kampus yang seharusnya memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk beraktualisasi justru menutup gerak mahasiswa itu sendiri. Kampus mennganggap suara dari mahasiswa sebagai pengganggu dan penodaan kesucian pendidikan. Berikanlah mahasiswa kesempatan untuk bergerak serta menyelaraskan gerak mahasiswa dan kampusnya.  Dalam konteks yang lebih besar, demokrasi dan kebebasan harus dihargai dari mulai tataran kampus sampai ke negara.

Kampus merupakan tempat menempa diri dan membentuk karakter serta kepribadian seorang mahasiswa. Pembentukan kapasistas diri seorang mahasiswa melalui kelas-kelas kuliah maupun kehidupan berorganisasi dalam kampus. Mahasiswa mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan kampus sebagai persiapan menghadapi arena sesungguhnya pasca keluar dari kuliah.

Dunia kampus bisa dikatakan sebagai representasi suatu sistem kenegaraan. Kampus menjadi miniatur kehidupan yang lebih besar dan lebih nyata.  Sistem demokrasi otomatis diterapkan dalam kehidupan berkampus. Dalam tata kelola organisasi, pemerintahan mahasiswa dan tata kehidupan kampus lainnya. Beberapa poin penting yang dijunjung tinggi dalam demokrasi adalah kebebasan berpendapat, kebebasan berkarya, persamaan hukum dan toleransi.

Kehidupan berorganisasi dalam tataran mahasiswa mutlak harus mendapatkan otoritas dan kesempatan yang luas. Kesempatan mahasiswa dalam organisasi haruslah juga diapresiasi oleh pihak kampus. Pihak kampus dalam hal ini adalah birokrat kampus seperti Rektor, dekan dan dosen. Stakeholder pemegang kebijakan membuka pintu seluas-luasnya untuk mahasiswa berekspresi. Mahasiwapun juga harus memanfaatkan kesempaatan yang diberikan ini dengan tanggung jawab dan kapasitas intelektual kaum terdidik.

Bangsa ini sempat memiliki catatan buruk dengan kebebasan berekspresi mahasiswa. Pasca terjadinya peristiwa Malari pada 1974 dan protes terhadap pelaksanaan pemilu 1977 pemerintah bertindak represif. Melalui kebijakannya pemerintah memberlakukan NKK/BKK. Kehidupan kampus dibungkam dengan alasan menganggu pemerintah, gerak mahasiswa dan kebebasan mahasiswa di renggut. Mahasiswa kehilangan arena untuk mengaktualisasikan diri dalam wadah organisasi kampus selama beberapa tahun. Kenangan buruk tersebut dihapus dengan peristiwa 1998, mahasiswa mendapatkan pentas yang tepat.

Pasca 1998, mahasiswa mulai mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berekspresi dan berpendapat. Saat ini sebuah ironi terjadi di beberapa perguruan tinggi. saat era demokrasi sudah berjalan masih ada praktik pengkerdilan gerak mahasiswa. Mahasiswa tidak sepakat dengan kebijakan yang diberlakukan kampusnya kemudian dibalas dengan repreifitas oleh pihak kampus. Mahasiswa mewujudkan ekspresi mereka dalam aksi demonstrasi maupun sindiran media. Kampus kemudian membalas dengan ancaman pembekuan gerak kemahasiswaan.  Dimana badan organisasi semisal BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) diberikan ancaman pembekuan program kerja dan penghentian dana.

Dalam era demokrasi seperti ini, praktek seperti itu sangat tidak dibenarkan. Pihak kampus yang seharusnya memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk beraktualisasi justru menutup gerak mahasiswa itu sendiri. Kampus mennganggap suara dari mahasiswa sebagai pengganggu dan penodaan kesucian pendidikan. Berikanlah mahasiswa kesempatan untuk bergerak serta menyelaraskan gerak mahasiswa dan kampusnya.  Dalam konteks yang lebih besar, demokrasi dan kebebasan harus dihargai dari mulai tataran kampus sampai ke negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s