NASIBMU, TRANSPORTASI JOGJA

Yogyakarta dikenal sebagai salah salah satu kota pusat pendidikan, kebudayaan dan pariwisata di indonesia.  Namun demikian, Yogyakarta masih memiliki permasalahan pelik dengan sistem transportasinya.  Sistem transportasi yang sudah terbangun selama ini belum sanggup menopang dengan maksimal.  Dimulai dari belum tercapainya titik keseimbangan antara demand dan supply dalam hal kepuasan. Ketepatan waktu dalam pelayanan menjadi permasalahan yang kedua. Ketiga, adalah rute yang mengcover beberapa tempat masih kurang. Terekhir adalah polusi dari asap kendaraan umum.

 

Transportasi umum (bus umum) di Yogyakarta dimulai dari adanya colt Campus UGM yang diinisiasi bagian trnasportasi UGM. Seiring berjalannya waktu, masyarakat semakin antusias dengan pelayanan angkutan umum ini. Pada akhir 1970-an colt Campus dihapuskan dan sebagai gantinya DLLAJR DIY menata sistem baru dan melahirkan bus kota.

 

Berjalannya waktu selama tiga puluh tahun, keadaan bus kota sudah menua dan menimbulkan permasalah baru. Kondisi fisik bus kota dan asap polusi menjadi hal utama yang dikeluhkan masyarakat. Belum lagi sopir-sopir yang seringkali ugal-ugalan di jalanan membahayakan keselamatan pengguna jalan. Menghadapi permasalahan demikian, Departemen Perhubungan mencanangkan sistem Bus Rapid Transit (BRT). Sistem ini mulai dioperasikan pada awal bulan Maret 2008 oleh Dinas Perhubungan, Pemerintah Provinsi DIY. Pengadaan bus Trans Jogja merupakan substitusi bagi bus kota yang dianggap sudah tidak layak.

 

“Tim master plan Yogyakarta  menyusun master plan transportasi ini terdiri dalam tiga tahap yaitu program jangka pendek 2009-2010, jangka menegah 2011-2015 dan jangka panjang 2016-2025. Saat ini bus yang beroperasi baru mencapai 54 unit, dalam jangka panjang diharapkan bisa mencapai 270 unit untuk melayani 113 ribu pelanggan.” ujar Ketua Tim Penyusunan Master Plan Transportasi Yogyakarta, Prof Dr Ir Ahmad Munawar MSc.

 

Setelah 3 tahun penerapan, masih banyak hal yan perlu dievaluasi antara lain kurangnya jumlah kendaraan, rute yang masih kurang dan berputar-putar, halte yang berjauhan dan kurang strategis, serta kenyamanan dalam halte. Kurangnya jumlah kendaraan mengakibatkan tidak sesuainya demand dan supply pengguna yang berakibat pada telatnya bus dan waktu yang lebih lama digunakan untuk menunggu datangnya bus. halte yang  sudah ada sekarang juga masih berjauhan, sepanjang jalan C Simanjuntak hingga perempatan kaliurang-ringroad hanya ada 2 halte yang keduanya d depan kopma UGM. Selain jarak yang jauh antar halte juga posisi halte dibebarapa tempat yang masih kurang strategis. Halte yang sudah dibangunpun terlalu sempit dan belum mengakomodir semua calon konsumen.

 

Beberapa pembenahan yang dilakukan dapat dengan menjadikan bus kota sebagai feeder Trans Jogja. Kedua menambah jumlah armada Trans Jogja dan jumlah halte untuk melayani konsumen. Terakhir dengan membenahi rute dan sistem pelayanan.  Pembenahn rute dilakukan dengan menata ulang rute yang sudah ada dan membuat rute-rute yang strategis. karena banyak keluhan rute yang sekarang digunakan terlalu berputar-putar sehingga menghabiskan waktu.  tidak lupa juga pelayanan di halte maupun di dalam bus hatus ditingkatkan. Semoga transportasi jogja semakin bak dan dapat memuaskan konsumen.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s