Sudahi Kemelut PSSI

“Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely” (Lord Acton 1887). Ungkapan dari Lord Acton diatas menggambarkan kekuasaan memang telah membuat banyak orang yang memiliki kekuasaan untuk melakukan tindak korupsi. perilaku korupsi yang dilakukan individu tertentu dalam sebuah organisasi akan sangat berpengaruh terhadap kinerja organisasi tersebut.

 

PSSI sebagai badan otoritas yang menaungi mengurusi persepakbolaan Indonesia kini sedang disorot dan dikecam oleh banyak masyarakat. Sudah sejak lama PSSI menjadi bulan-bulanan masyarakat, hal ini dikarenakan tata organisasi yang buruk, prestasi yang kian melorot, dan kualitas kompetisi yang semakin menurun. Kini, masyarakat bertambah kebencian terhadap PSSI karena ketua umum Nurdin Halid maju kembali dalam pencalonan yang ketiga kali. Masyarakat sudah bosan dengan kepemimpinan Nurdin Halid yang sudah dua periode tanpa membawa hasil apa-apa. Selain itu juga terdapat beberapa individu yang sudah menduduki posisi penting selama 22 tahun dan 11 tahun.

 

Menyikapi sengketa yang terjadi di tubuh PSSI Sebanyak 83 anggota pemprov dan klub  membuat mosi tidak percaya kepada kepengurusan PSSI sekarang. Ini artinya, dukungan suara kepada Nurdin semakin melemah. Setelah itu mereka membentuk Komite Penyelamat Persepakbolaan Nasional (KPPN). Komite ini memiliki keinginan menyelamatkan dan menormalisasikan kegiatan persepakbolaan nasional.

 

Dalam masa pemilihan ketua PSSI yang baru, Komite Banding Pemilihan (KBP) mengumumkan hasil keputusannya yang menolak banding Jenderal TNI George Toisutta dan Arifin Panigoro serta menganulir keputusan Komite Pemilihan (KP). Selanjutnya, Komite Banding menyerahkan kembali mandatnya kepada Pengurus PSSI. Sebelumnya, KP telah menetapkan calon ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota Komite Eksekutif PSSI. Keputusan KP itu menimbulkan reaksi dari masyarakat yang telah meloloskan Nurdin Halid dan menolak pencalonan George dan Arifin.

 

Kisruh PSSI ini juga menarik suara dari erhatian dari anggota DPR RI untuk melakukan RDPU PSSI dengan Komisi X DPR. Mantan wakil presiden jusuf Kalla pun angkat bicara “Semua pihak harus mengikuti ketentuan yang berlaku termasuk dari FIFA dan PSSI. Seharusnya yang lebih penting (dibahas) adalah bagaimana sepakbolanya yang berprestasi, bukan PSSI-nya”. Menteri Pemuda dan Olahraga pun mengancam menjatuhkan sanksi atas kondisi ini, pdahal jika pemerintah ikut-ikutan maka resiko sanksi dari FIFA siap menunggu.

 

Dari semua permasalahan tersebut, maka mutlak dilakukan regenerasi dan reformasi dalam tubuh PSSI. Pertama yang dilakukan adalah pembersihan PSSI dari politik. Bisa dilihat sekarang, proses pemilihan sudah mengarah politik dengan banyaknya persinggungan partai politik dalam pemilihan ketua umum. Perbaikan PSSI lebih penting dari sekedar kepentingan-kepentingan politik didalamnya. Kedua, pemilihan ketua yang kompeten,  bersih dari tindak kriminal dan memiliki pengalaman di sepak bola. Ketiga, mengganti semua individu-individu bermasalah di dalam tubuh kepengurusan PSSI. PSSI dan sepakbola Indonesia butuh penggerak yang baru “new leader, fresh idea”. Sudahi kemelut PSSI dengan reformasi dan regenerasi PSSI. Majulah persepakbolaan Indonesia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s