REVITALISASI PARIWISATA JOGJA

Akhir tahun 2010, dunia pariwisata terguncang akibat erupsi Gunung Merapi. Tak bisa dipungkiri akibat erupsi Gunung Merapi tersebut, terlebih penutupan Bandara Adi Sutjipto selama dua pekan, berimbas pada penurunan jumlah kunjungan wisatawan ke Jogja, baik wisatawan mancanegara maupun nusantara termasuk penundaan sejumlah event internasional. Bencana merapi menyebabkan kerugian di empat kabupaten yaitu Sleman, Boyolali, Magelang dan Klaten.

 

Kabupaten yang mendapatkan kerugian paling besar adalah kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Drs Untoro Budiharjo, kerugian bencana merapi mencapai kisaran 16,3 milyar rupiah. Kerugian ini didapatkan dari objek wisata, museum, hotel, pondok dan desa wisata di lereng selatan Gunung Merapi belum dihitung termasuk kerugian di tempat wisata daerah lain. Padahal pariwisata di Jogjakarta menyumbang pendapatan asli daerah 25 persen dari total pendapatannya.

 

Kerugian pendapatan dihasilkan akibat berkurangya jumlah wisatawan mancanegara maupun domestik yang berkunjung. Bukan hanya pengunjung wisata daerah Merapi, penurunan jumlah kunjungan juga dapat dilihat dengan turunnya jumlah hunian hotel dan pengunjung tempat pariwisata seperti Pantai di selatan, wisata keraton, dan kunjungan ke candi. Penurunan wisata juga diperburuk dengan pemberitaan oleh media massa yang hanya mengabarkan kerusakan akibat erupsi merapi, tanpa memberikan  kabar bahwa Jogjakarta aman untuk dikunjungi.

 

Selain itu, diperburuk  dengan  adanya keputusan Dirjen Perhubungan Udara yang menutup untuk sementara Bandara Adisutjipto Yogyakarta, hal ini sangat disayangkan, karena keputusan tersebut tidak dilengkapi penjelasan teknis yang detail, sehingga menciptakan kebingungan terutama di kalangan pelaku usaha pariwisata di DIY. Seharusnya, ada koordinasi antara pengelola bandara, perusahaan penerbangan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, serta Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika untuk melakukan analisa secara objektif, sehingga bandara tidak terlalu lama ditutup. Kemudian bisa dikomunikasikan kepada dinas pariwisata, karena bandara merupakan salah satu pintu masuk utama pariwisata Jogjakarta.

 

Menyikapi hal demikian, pemerintah khususnya pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengambil langkah strategis untuk mengembalikan citra pariwisata daerahnya.  Pertama-tama dengan mengadakan kerja sama dengan media massa untuk pemberitaan yang tidak menakutkan, sehingga akan banyak wisatawan yang berkunjung ke daerah ini. Tak bisa dipungkiri, dampak yang terjadi terhadap merapi berimbas pada pariwisata jogjakarta. Akan tetapi, merapi hanya sebagian kecil dari wisata jogjakarta masih banyak tempat aman dan indah untuk dikunjungi.

 

Langakah kedua, promosi langsung keluar negeri. Dengan promosi langsung yang dilakukan Dinas Pariwisata, akan membuat publik percaya karena informasi didapatkan langsung dari instansi yang terkait. Langkah ini dapat memanfaatkan pameran atau media yang sudah ada. Ketiga, membuat tagline senyum jogja maupun visit jogja 2011. Langkah ketiga ini, dengan mempromosikan wisata merapi khususnya dan jogjakarta pada umumnya dengan wajah baru dan potensi-potensi baru yang ada. Perlu juga dituntut peran pemerintah pusat melalui Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata untuk membuktikan bahwa jogjakarta sudah aman kembali untuk menjadi tempat tujuan wisata. Bangkitlah pariwisata Jogja kembali..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s