MENUJU TIMNAS BERKUALITAS

Tim nasional sepakbola Indonesia yang berlaga dalam piala AFF 2010 saat ini melejit seperti bintang. Sebelum piala AFF timnas dianggap remeh dan dipandang sebelah mata bahkan oleh warga negara Indonesia sendiri. Akan tetapi, setelah lolos ke final piala AFF timnas indonesia mulai dipandang kembali. Sepak terjang tim nasional menjadi perbincangan banyak golongan dan berbagai tempat di Indonesia.

Kiprah timnas kali ini tidak dapat dilepaskan dari revolusi yang dilakukan pelatih Alfred Riedl. Riedl memanggil Okto yang sebelumnya tidak dipanggil karena tinggi badan yang dianggap kurang tetapi dengan kemampuannya dapat menepis keraguan tersebut. Kemudian Gonzales pemain yang baru menyandang status WNI dan Irfan Bachdim keturunan Indonesia-Jerman menjadi ujung tombak utama. Peran keduanya menggantikan sosok Bambang Pamungkas yang sudah menjadi ikon striker utama timnas.

Kondisi persepakbolaan nasional tak terlepas dari berbagai masalah  antara lain, pola pengelolaan dan manajerial asosiasi yang buruk, regenerasi pemain yang lambat, terbatasnya arena dan sarana sepakbola, kurangnya kompetisi dan wadah pengembangan yang berkualitas.

Sebagai pembanding kita bisa belajar dari Jerman. Dalam keberlangsungan pembinaan adanya keseimbangan dan pembagian wewenang antara Bundesliga (penyelenggara liga) dan DFB (asosiasi sepakbola jerman). Akan tetapi, Bundesliga dan DFB memiliki tujjuan bersama dalam pembentukan timnas yang berkualitas. Sebagai contoh, dalam kompetisi asosiasi memberikan ruang geraka yang lebih banyak bagi pemain lokal dibanding pemain luar negeri.

Satu dekade terakhir, sistem pembinaan pemain muda menghasilkan sekitar 5000 pemain usia 12-18 tahun. Sistem ini ternyata memberi konsekuensi peningkatan jumlah pemain Jerman yang usianya di bawah 23 tahun yang bermain di kompetisi reguler Bundesliga, yakni sekitar 15 persen atau naik 6 persen dibandingkan dengan dekade sebelumnya.

Selain itu bisa dilihat juga dari Juara dunia lima kali, Brazil. Sepakbola ada dimana-mana dan merasuki jiwa rakyat Brazil. Begitu banyak wadah dan arena untuk anak-anak Brazil mengembangkan minatnya. Brazil dengan tren sepak bola yang begitu besar berhasil melahirkan bintang-bintang emas seperti Pele, Ronaldo, Ronaldinho, dan masih banyak lagi.

Pembinaan dari usia dini dan pembangunan fasilitas yang memadailah yang nampaknya bisa menjadi solusi mengatasi krisis persepakbolaan nasional. Pembinaan usia dini dimulai dengan pembentukan sekolah sepak bola terpusat usia dini, dari kecil anak-anak yang potensial dan berkualitas dipusatkan dan diberi pelatihan jangka panjang. Pembentukan kompetisi yang banyak, ini akan membuka kesempatan generais muda untuk mengembangkan kemampuannya. Selain itu, juga membuka dan mengundang kesempatan tim-tim profesional untuk membuka sekolah sepak bola (young academy) di Indonesia.

Membentuk pengelolaan manajemen asosiasi yang berkualitas menajadi perhatian yang kedua. Manajemen asosiasi yang berkualitas akan membuat sistem yang baik bagi keberlangsungan persepakbolaan nasional. Sinergitas antara PSSI sebagai asosiasi wadah persepakbolaan, BLI (badan Liga Indonesia) sebagai penyelenggara kompetisi dalam negeri dan tentunya klub-klub sebagai tempat para pemain bernaung pemain perlu lebih ditingkatkan. Regulasi penggunaan pemain asing di dalam pertandingan juga perlu dikaji. Sejauh ini klub diijinkan menggunkan lima peman bersaman di lapangan, sebaiknya perlu dibatasi agar tidak mengurangi kesempatan pemain lokal untuk tampil. Terakhir, industrialisasi berlaku, industrialisasi sepakbola yang dimaksud untuk kemandirian keuangan klub sehingga tidak bergantung pada dana APBD. Semoga timnas Indonesia bisa tampil lebih baik dan menjadi macan asia. Jayalah sepakbola Indonesia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s