CAFTA sebagai Pemacu Kompetisi Perekonomian

BANGSA Indonesia pada awal 2010 digebrak dengan pemberlakuan China-ASEAN  Free Trade Area (CAFTA). CAFTA yang mulai diberlakukan pada 1 Januari 2010 tersebut menggunakan prinsip perdagangan bebas. Dalam hal ini, dimaksudkan agar tidak ada hambatan dalam proses perdagangan antara negara-negara ASEAN dan China. Pemberlakuan CAFTA mengalami proses yang panjang, dimulai dengan kesepakatan untuk menerapkan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA). ACFTA  sendiri dirancang sejak lama dan ditandatangani delapan tahun yang lalu, tepatnya pada 4 November 2002. Sedangkan jauh sebelumnya, juga sudah dirancang dan disepakati Common Effective Preferential Tariff dalam rangka ASEAN Free Trade Agreement (CEPT-AFTA). CEPT-AFTA ditandatangani 18 tahun yang lalu, tepatnya pada 28 Januari 1992. Kemudian baru diberlakukan pada 1 Januari 2010.

Pemberlakuan CAFTA ini pun menjadi kontroversi dan perdebatan banyak pihak. Pihak yang tidak setuju menyatakan CAFTA akan mengahancurkan kondisi perekonomian dan kinerja para pelaku bisnis dalam negeri. Sebagai alasan antara lain mematikan kreativitas dalam negeri, menghambat produksi dalam negeri dan menganggap kualitas serta harga barang lokal tidak dapat bersaing dengan produk-produk China.

Selain itu, penerapan CAFTA juga dikhawatirkan akan menciptakan kegelisahan industri dalam negeri. Hal ini dikarenakan industri lokal dinilai belum cukup siap menghadapi serbuan produk-produk China yang berharga murah. Produk-produk dalam negeri masih memiliki biaya produksi yang cukup tinggi sehingga harga pasaran pun masih sulit ditekan. Keadaan ini dikhawatirkan akan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dikarenakan ditutupnya perusahaan dalam negeri akibat kalah bersaing. Menurut data survey Litbang Kompas pada 3 Februari 2010, terdapat empat bidang yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia yaitu: elektronik, telepon selular, mainan anak dan peralatan rumah tangga. Masalah yang paling dikhawatirkan adalah pengaruh CAFTA terhadap keberlangsungan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang berkonsentrasi pada pasar dalam negeri karena sangat tersaingi dengan keberadaan produk China di pasaran. Tentu UKM tersebutlah yang paling parah terkena imbas dengan membanjirnya produk-produk China.

Hal ini dapat dilihat sebagai pesimistis kalangan dalam negeri dalam menyikapi CAFTA, padahal masyarakat belum merasakan langsung. Masyarakat dalam hal ini hanya menyayangkan berlakunya CAFTA tanpa mempersiapkan diri untuk bersaing dalam tataran global.

Masyarakat harusnya memandang CAFTA dengan optimisme, dan bijak dalam bersikap serta tidak perlu takut dengan keberadaan CAFTA. Idealnya, masyarakat dapat mengubah ancaman menjadi peluang emas. CAFTA dipandang sebagai tantangan untuk memajukan dan meningkatkan kreativitas masyarakat dalam persaingan usaha. Indonesia masih memiliki keunggulan dengan trade balance (neraca perdagangan) produk pertanian dengan ASEAN-Cina pada Januari 2010, Indonesia masih meraih surplus US$2,2 miliar. Ini bisa menimbulkan semangat dalam persaingan CAFTA.

Lalu apa yang harus dilakukan masyrakat, steakholder dan pihak Indonesia? Masyarakat harusnya menyadari bahwa CAFTA sebagai peluang bukan sebagai ancaman, akan memacu kretivitas masyarakat untuk bersaing, dan lebih mencintai produk dalam negeri. Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibanding China dalam hal pertanian dan sumber daya alam. Pemerintah dapat menurunkan suku bunga bank yang berlaku, hal ini dapat mengurangi biaya produksi yang dikeluarkan oleh produsen. Selanjutnya membenahi infrastruktur dan membuat regulasi-regulasi yang mendukung persaingan Indonesia dalam CAFTA. Terakhir, institusi pendidikan juga memiliki peran sebagai pembangun awal bagi pribadi-pribadi agar siap berjuang dalam persaingan internasional. Perlu diperhatikan pembentukan dari bangku sekolah dasar hingga bangku perkuliahan. Keadaan wiraswasta Indonesia yang hanya 0,18persen juga sangat jauh dari ideal bagi sebuah bangsa, sedangkan idealnya adalah 2 persen.  CAFTA bukan jadi halangan bangsa Indonesia untuk maju, tetapi harus jadi peluang dan kesempatan untuk maju.

BANGKIT INDONESIA,,
UNTUK SENYUM INDONESIA.

Chandra Agie Yudha
Mahasiswa Jurusan MAnajemen Angkatan 2009
Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada

tulisan ini juga dimuat di: http://kampus.okezone.com/read/2010/08/28/367/367630/cafta-dan-kompetisi-perekonomian-indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s