KEPEKAAN SOSIAL SEBAGAI MODAL PEMBANGUNAN BANGSA

if you are planning for a year, saw a rice.
if you are planning for a decade, plant a tree.
if you are planning for a lifetime, educate people

Perlu dicermati fenomena – fenomena terbaru yang baru terjadi maupun dedang terjadi di masyarakat, saat kebebasan kebebasan pergaulan dan skandal video porno dianggap sebagai hal wajar dan lumrah. Belum lagi kasus-kasus lain yag melanda negeri ini, mulai dari kasus dramatisasi antara KPK, pemerintah dan kepolisian, kasus jaringan mafia pajak, jarngan mafia hukum. Ujungnya dari kasus ini adalah untuk kenikmatan perut sesaat.

Selain fenomena di atas, ada banyak sisi lain yang lebih menarik untuk diperhatikan dan dipecahkan masalahnya, yaitu seputar kondisi kesejahteraan masyarakat, korupsi yang sudah mengakar, kondisi lingkungan hidup di tanah air yang harus kita wariskan secara turun temurun kepada generasi penerus serta tingkat pendidikan masyarakat. Sebab akhir – akhir ini telah mengalami kerusakan di berbagai tempat, seringkali kita menyaksikan dan mendengar kabar duka dari peristiwa-peristiwa di tanah air antara lain, bencana longsor, kebanjiran, kelaparan, kerusakan lingkungan akibat limbah – limbah industri, dan munculnya wabah – wabah penyakit mematikan.

Namun, kondisi bangsa tersebut apakah hanya akan kita diamkan dan membiarkan bangsa ini hancur tak bersisa? Tentu tidak jawab kita. Kemudian, harus timbul rasa kepekaan sosial yang menjadi modal pembangunan bangsa, para pemuda dan mahasiswa yang notabene adalah sebagai pewaris negeri pun sangat dituntut perannya dalam menyikapi segala persoalan ini. Paling tidak dengan turut memikirkan bentuk solusi untuk dapat menyelamatkan saudara – saudara sebangsa dalam menghadapi masalah-masalahnya walaupun hanya langkah kecil atau hanya dari kampus. Mahasiswa dan pemuda memiliki keresahan akan realita social bangsa, dan keresahan ini bukn milik mereka tetapi milik semua rakyat Indonesia juga.

Teringat pada percakapan seorang pemuda dengan bung Hatta. Sang pemuda “wahai, langkah apakah yang bisa aku berikan dalam pembangunan bangsa?”. Jawab hatta “sesungguhnya apayang menjadi pertanyaanmu adalah sebuah langkah besar dalam membangun bangsa”.

Tiga hal yang dapat dilakukan mahasiswa dan pemuda berbasis pada tradisi intelektual dalam menyikapi masalah bangsa adalah: mengkaji akar permasalahan lemahnya sensitivitas sosial pada sebagian rakyat Indonesia, kedua, mendiskusikannya sebagai upaya penguatan ide – ide bersama dalam penyelesaian masalah, dan menyebarluaskan keresahan-keresahan yang dimilik para mahasiswa dan pemuda kepada masyarakat luas melalui media publik.

Bukan tidak mungkin ketika masyarakat tersadarkan akan realita sosial yang terjadi maka akan menjadi titik awal pembangunan bangsa. Pembangunan bangsa memerlukan semua tangan masyarakat Indonesia bukan hanya segelintir orang saja. Proses pengenalan realita sosial perlu diajarkan dari bangku pendidikan dasar dan membuat system pendidikan sedekat mungkin dengan kondisi mayarakat. Mimpi tentang negeri yang “Baldatun Toyyibah wa Robbun Ghofur“ (Gemah ripah Loh Jinawi) akan terwujud ketika masyarakat memiliki rasa peduli dan peka akan realita yang terjadi.

JOGJAKARTA, AKHIR JUNI 2010

CHANDRA AGIE YUDHA
MAHASISWA JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
ANGKATAN 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s